DALAM satu atau dua dekade terakhir, muncul fenomena yang disebut sebagai gerakan hijrah yang terlihat mencolok di kalangan pesohor (artis, selebritas, dan influencer) Indonesia. Mereka mendeklarasikan hijrah melalui media sosial dan publikasi aktivitas spiritual mereka.
Secara etimologis "hijrah" berasal dari kata "هَجَرَ" (hajara) yang berarti "meninggalkan" atau "memisahkan diri". Kata ini juga dapat berarti "memutus hubungan" atau "berpindah".
Namun, ada juga gejala yang terlihat di kalangan mereka yang sedang berjirah tersebut, yakni menghakimi tanpa ilmu yang memadai. Bahkan mereka berani menyatakan pendapat yang melampaui kewenangannya sebagai seseorang yang baru belajar agama.
Jebakan Hijrah
Hal penting yang perlu diketahui oleh seseorang yang berhijrah yaitu harus mengetahui titik permulaanya dan kemana titik tujuannya. Faktor ini sangat penting agar tidak berbelok arah atau terhenti di tengah jalan. Jebakan pertama yang harus diwaspadai yaitu masuknya niat yang tidak semestinya. Selalu saja ada celah yang menggelincirkan niat berhijrah, misalnya mengikuti trend, agar bisa masuk dalam circle komunitas, untuk mendapatkan pujian, popularitas, atau keuntungan, dan lain-lain.
Nabi s.a.w sudah memperingatkan, "maka barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan, atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jebakan kedua, fenomena hijrah dalam kehidupan modern tentu positif, tapi juga perlu pendekatan bijak dan harus didasari dengan niat yang benar. Ada potensi beragama dengan mengedepankan formalisme dan simbolisme: terlalu menekankan penampilan luar tanpa kedalaman ilmu. Berhijrah bukan soal tampilan, tapi soal kesungguhan memperbaiki diri karena Allah, secara terus-menerus dan konsisten. Lebih dari itu, berpotensi mengarah eksklusif, menganggap kelompoknya paling benar dan memandang sinis orang lain yang belum "berhijrah".
Jika setelah berhijrah ternyata pandangan keagamaannya menjadi sempit, eksklusif, dan merasa paling benar, berarti tidak mencontoh Nabi s.a.w. Beliau berhijrah bukan hanya menyatukan sahabat Muhajirin dan Anshar, melainkan merangkul semua dan juga membangun masyarakat Madinah yang harmonis yang di dalamnya hidup berbagai suku dan penganut agama yang berbeda.
Dengan adanya jebakan tersebut apakah lantas tidak perlu berhijrah? Tentu tidak. Tetap berhijrah dengan disertai keyakinan bahwa beragama itu mudah. Jalan agama itu luas, jangan dibuat sempit oleh kita sendiri. Begitu pula berhijrah itu harus dibuat sederhana dengan cara yang sederhana pula. Setiap orang punya pilihan cara sendiri. "Orang yang berhijrah sejati adalah yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." Sesederhana itu pesan Nabi s.a.w. dalam sebuah hadis shahih.
Menarik perumpamaan yang digunakan Al-Qur'an menyamakan agama dengan tali (habl). Tali adalah utas yang panjang. Dari ujung satu sampai ke ujung lainnya tetap disebut tali. Allah menyuruh kita memegang kuat tali (agama) Allah dan melarang bercerai berai. Seperti dalam ayat ini:
"وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا"
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai." Q.S. Ali Imran/3: 103.
Allah tidak meminta untuk berpegang pada bagian tertentu. Tidak penting bagian mana tali (agama) Allah yang kita pegang, asalkan dipegangnya sekuat tenaga. Sejatinya setiap kita tidak mengetahui bagian mana tali (agama) Allah yang kita pegang. Demikianlah semestinya beragama, tidak perlu klaim kebenaran subyektif. Wallahu a'lam bis sawab.
Disarikan dari tulisan Syafi'i (Kepala Pusbangko. Manajemen, Kepemimpinan dan Moderasi Beragama Kemenag di laman resmi Kemenag RI.

Tulis komentar