View AllRole Model

Hijrah

Realisme

Fokus

Senin, 30 Maret 2026

10 Bahasa Tubuh Agar Anda Terlihat Penting



ADA bahasa yang tidak pernah diucapkan, namun sering kali lebih jujur daripada kata-kata. Ia hadir dalam cara seseorang berdiri, berjalan, menatap, dan diam. Bahasa tubuh bukan sekadar gerakan, melainkan cerminan dari bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri. Dunia membaca kita jauh sebelum kita berbicara, dan sering kali, penilaian itu terbentuk dari hal-hal yang tidak kita sadari.

Menjadi seseorang yang terlihat penting bukan tentang menciptakan kesan palsu, melainkan tentang menyelaraskan batin dengan sikap yang utuh. Secara psikologis, tubuh adalah perpanjangan dari keyakinan diri. Secara sosial, ia menjadi sinyal yang memberi tahu orang lain bagaimana mereka seharusnya memperlakukan kita. Dan secara eksistensial, ia adalah cara kita hadir di dunia tanpa harus meminta pengakuan. Di situlah seni ini menjadi halus sekaligus kuat, karena ia tidak berteriak, tetapi tetap terdengar.

1. Berdiri dengan kesadaran penuh atas diri sendiri

Postur tubuh yang tegak bukan sekadar soal fisik, tetapi tentang bagaimana seseorang menerima keberadaannya. Ketika seseorang berdiri dengan tenang dan seimbang, ia mengirimkan pesan bahwa ia tidak sedang bersembunyi atau meminta izin untuk ada. Ia hadir dengan utuh, tanpa tergesa-gesa, tanpa keraguan yang berlebihan.

2. Tatapan yang tenang tanpa menantang

Mata adalah pintu pertama yang dibaca orang lain. Tatapan yang stabil, tidak menghindar namun juga tidak menekan, menunjukkan kepercayaan diri yang matang. Ia tidak mencoba mendominasi, tetapi juga tidak menyerah pada rasa canggung. Di situlah orang lain merasakan kehadiran yang kuat namun tetap nyaman.

3. Gerakan yang tidak terburu-buru

Orang yang merasa penting tidak hidup dalam tekanan untuk selalu cepat. Ia bergerak dengan ritme yang terkendali, seolah memahami bahwa waktunya berharga dan tidak perlu diburu. Gerakan yang tenang memberi kesan bahwa ia memiliki kendali atas dirinya dan situasinya.

4. Menguasai ruang tanpa menguasai orang

Ada perbedaan antara menguasai ruang dan mendominasi orang lain. Seseorang yang penting mampu hadir dan mengisi ruang dengan wajar, tanpa perlu membuat orang lain merasa kecil. Ia tidak mengambil terlalu banyak tempat, tetapi kehadirannya tetap terasa jelas.

5. Diam yang tidak canggung

Tidak semua keheningan adalah kelemahan. Ada diam yang penuh makna, yang menunjukkan bahwa seseorang tidak tergantung pada kata-kata untuk merasa berarti. Ia nyaman dengan dirinya sendiri, dan justru dari diam itu muncul wibawa yang sulit dijelaskan.

6. Senyum yang tidak berlebihan

Senyum yang tulus namun tidak dipaksakan memberi kesan keseimbangan. Ia tidak mencoba menyenangkan semua orang, tetapi tetap menunjukkan kehangatan. Di situlah orang lain melihat bahwa ia memiliki kendali emosional yang sehat.

7. Kontak fisik yang terukur

Jabat tangan, anggukan, atau sentuhan ringan memiliki makna yang dalam jika dilakukan dengan kesadaran. Tidak terlalu lemah, tidak terlalu kuat. Ia mencerminkan kehadiran yang stabil dan sikap yang menghargai batasan.

8. Mengurangi gerakan yang tidak perlu

Gerakan kecil seperti memainkan tangan, mengetuk-ngetuk, atau sering mengubah posisi bisa memberi kesan gelisah. Ketika seseorang mampu menenangkan tubuhnya, ia menunjukkan bahwa pikirannya juga terpusat. Di situlah muncul kesan ketegasan yang alami.

9. Mendengarkan dengan tubuh, bukan hanya telinga

Orang yang benar-benar penting tidak hanya berbicara dengan baik, tetapi juga mendengarkan dengan utuh. Tubuhnya mengarah pada lawan bicara, ekspresinya hadir, dan perhatiannya tidak terpecah. Ia membuat orang lain merasa dihargai tanpa perlu banyak kata.

10. Konsistensi antara batin dan gerak

Bahasa tubuh yang kuat lahir dari keselarasan. Ketika apa yang dirasakan, dipikirkan, dan ditampilkan berada dalam satu garis, tidak ada kesan dibuat-buat. Di situlah seseorang tidak perlu berusaha terlihat penting, karena orang lain sudah merasakannya dengan sendirinya.

Jika suatu hari semua kata-kata dihilangkan dari dirimu dan hanya tersisa bahasa tubuhmu, apakah dunia akan tetap melihatmu sebagai seseorang yang bernilai, atau justru sebaliknya?

Fb

Jumat, 20 Februari 2026

Bedah Duel Legendaris Nabi Musa vs Para Penyihir Fir'aun



APA Itu Fenomena Staff War atau "Influencer Bayaran" yang tugasnya memoles citra penguasa? 

Sahabat fikir ini barang baru? Yuuk main agak jauh melintas waktu sambil ngabuburit ke ribuan tahun lalu.

Firaun sudah mengoperasikan agensi propaganda elit yang jauh lebih rapi dan mematikan. Mari kita bedah pola unik di balik duel paling legendaris sepanjang masa dalam sebuah Ultimate Showdown: Musa AS vs Institusi Sihir Mesir.

Firaun tidak memanggil sembarang "dukun". Dia mengerahkan para Lector-priests atau ahli sihir pilihan dari seluruh penjuru Mesir yang bertindak sebagai teknokrat ideologi dan penasihat komunikasi publik. Dalam struktur birokrasi House of Life (Pr-Ankh), mereka adalah elit intelektual yang bertugas menjaga narasi bahwa Firaun adalah Tuhan melalui manipulasi mental . 

Mengapa Firaun repot-repot mengumpulkan mereka? Karena mukjizat Musa AS telah memicu "krisis otoritas" di kabinetnya. Firaun butuh pembuktian teknis untuk meyakinkan publik bahwa Musa hanyalah seorang penipu yang menggunakan trik murahan. Dengan mendatangkan ribuan ahli, Firaun ingin melakukan Cancel Culture total terhadap pengaruh Musa agar stabilitas takhtanya tidak runtuh oleh gerakan pembebasan Bani Israil. 

Strategi ini terekam jelas dalam Al-Qur'an:
"Dan Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya): 'Datangkanlah kepadaku semua ahli sihir yang pandai!'" (QS. Yunus: 79).

Sains di Balik Gaslighting Massal

Saat hari raya tiba (Yaumul Zinah), para penyihir ini melakukan teknik manipulasi yang sangat presisi di hadapan jutaan massa. Menurut Ibnu Abbas dan Ibnu Katsir, mereka melumuri tali-tali dan tongkat kayu dengan air raksa (mercury/zi'baq) . Logikanya? Panas matahari yang menyengat di siang bolong (Dhuha) menyebabkan air raksa itu memuai dan bergerak secara kinetik, menciptakan ilusi visual seolah tali-tali itu menggeliat layaknya ular hidup.

Ini adalah strategi Trik Mata untuk menciptakan ketakutan massal (Mass Hysteria) agar rakyat tetap tunduk. Al-Qur'an membedah trik psikologis ini dengan tajam:

"Maka setelah mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang banyak dan menjadikan orang banyak itu takut, karena mereka memperlihatkan sihir yang hebat (menakjubkan)." (QS. Al-A'raf: 116).

Mengapa Tongkat Musa Bukan Sekadar Simbol?

Banyak yang keliru menganggap tongkat Musa hanyalah "simbol ular". Padahal, tongkat ini adalah Ultimate Disruptor yang membawa Real Authority. Jika sihir Firaun hanya mengubah pandangan tanpa mengubah massa materi (tali tetap tali), tongkat Musa mengalami perubahan esensi secara biologis menjadi Tsu’ban Mubin (ular raksasa yang nyata) .

Bukti teknisnya adalah tindakan Talqaf (menelan). Secara logika, sebuah ilusi mata tidak mungkin bisa mengonsumsi benda fisik. Namun, ular Musa secara fisik melenyapkan semua tali dan tongkat para penyihir di lapangan tersebut . Begitu ular itu kembali menjadi kayu di tangan Musa, lapangan bersih total; ribuan alat peraga penyihir telah hilang ditelan realitas. Allah menegaskan:

"Dan lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya tukang sihir (belaka)..." (QS. Thaha: 69).

Di tengah kegilaan kekuasaan Firaun, muncul Siti Asiah sebagai sosok "Lady Boss" yang paling radikal. Sebagai Ratu, dia punya akses unlimited terhadap kemewahan, tapi dia memilih melakukan rebellion terhadap sistem suaminya sendiri. Keberaniannya memuncak setelah melihat keteguhan Siti Masyitah (perias rambutnya) yang lebih memilih mati di kuali mendidih daripada mengakui Firaun sebagai Tuhan.

Asiah tidak butuh validasi istana. Dia memilih integritas di atas segalanya, bahkan saat Firaun menyiksanya dengan cara mengikat tangan dan kakinya pada empat pasak di bawah terik matahari. Dalam penderitaan itu, dia justru tersenyum karena Allah memperlihatkan tempat tinggalnya di surga. Rasulullah SAW menyebutnya sebagai satu dari empat wanita terbaik sepanjang sejarah:

"Wanita penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Muzahim istri Firaun." (HR. Ahmad).

Keteguhannya diabadikan dalam doa yang sangat personal:

"Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya..." (QS. At-Tahrim: 11).

Firaun, yang panik karena narasi ketuhanannya runtuh, bahkan oleh istrinya sendiri mencoba melakukan tindakan represif ekstrem. Ketika Musa AS telah melempar tongkat dan secara kasat mata menelan ribuan ular penyuhur, membuat sebagian penyihir mengakui mukjizat Musa AS. Firaun menggeliat marah dan Dia mengancam akan memotong tangan dan kaki para penyihir yang membelot secara silang dan menyalib mereka di pohon kurma. Namun, ancaman ini gagal total. Para penyihir yang tadinya budak upah kini telah menjadi pemegang prinsip yang kokoh. Firaun berteriak:

"Demi Allah, pasti akan aku potong tangan dan kakimu dengan bersilang, kemudian aku akan menyalib kamu semua." (QS. Al-A'raf: 124).

Mereka menjawab dengan tenang bahwa mereka hanya akan kembali kepada Tuhan. Ini adalah bukti bahwa sekali seseorang memegang "Real Authority" (Kebenaran), intimidasi fisik sebesar apa pun tidak akan bisa meruntuhkan mentalnya

Firaun gagal total. Ibn Khaldun mengamati bahwa kekuasaan yang dibangun di atas penindasan akan hancur saat  solidaritas elitnya retak . Ketika pilar intelektual (penyihir) dan keluarga inti (Asiah) justru bersujud kepada kebenaran, saat itulah kejayaan dinasti Firaun resmi memasuki masa kedaluwarsanya .

Call to Action:

Hari ini, kita masih dikepung oleh ribuan "tali berisi air raksa" modern: pencitraan kosong, narasi palsu, dan manipulasi informasi. Apakah kalian akan tetap menjadi penonton yang tertipu, atau berani mengambil posisi seperti Siti Asiah yang memilih Integritas di atas Kursi Empuk Istana? Wahai para Asiyah istana, jangan berikan air raksa manipulasi pencitraan kosong, Agar penguasa mampu jeli melihat dengan kasat mata. 

Mana yang kalian pilih: Menjadi budak validasi atau pemegang integritas?

Dikutip dari akun Fb Nora Margaret.


Salam Sayang Literasi Numerasi 
Bu Guru (Nora Margaret)

Foto : Ilustrasi AI

Selasa, 17 Februari 2026

Sunat Perempuan dalam Pandangan Islam



KISAH seorang perempuan Afrika bernama Waris Dirie menjadi perbincangan dunia terkait sunat perempuan ini. 

Ia lahir di gurun Somalia pada tahun 1965. Salah satu dari dua belas anak dalam keluarga nomaden yang menggembalakan kambing di salah satu lanskap paling keras di bumi.

Saat berusia lima tahun, seorang perempuan tua datang menjemputnya. Ia menggunakan pisau cukur tua yang kotor dan berlumuran darah. Tanpa anestesi. Tanpa sterilisasi.

Waris ditutup matanya. Diberi akar pohon untuk digigit. Ditahan oleh ibunya, sementara bibinya membantu menahan tubuhnya. Lalu pemotongan dimulai. Sunat perempuan.

Semuanya dijahit rapat menggunakan duri akasia dan benang putih, menyisakan lubang sebesar kepala korek api.

Salah satu saudara perempuannya meninggal akibat komplikasi. Dua sepupunya juga meninggal. Namun Waris bertahan hidup.

Ibunya mengatakan itu harus dilakukan. Atas nama Allah. Atas nama tradisi. Semua anak perempuan harus mengalaminya.

Inilah Somalia, di mana sekitar 98 persen perempuan mengalami sunat perempuan (Female Genital Mutilation/FGM).

Pada usia 13 tahun ia kabur ke Mongadisu karena hendak dinikahkan. Dari sana ia berjuang hingga sampai di London. Bekerja serabutan, hingga suatu saat seorang fotografer Terence Donovan, aalah satu fotografer mode paling terkenal di dunia. menemukannya. Hidup Waris berubah, ia menjadi model. 1987.

Tahun itu juga, ia memotretnya untuk Kalender Pirelli bersama seorang model
yang saat itu belum dikenal: Naomi Campbell.

Ia berkarie di Paris, Milan, London, dan New York. Ia menjadi wajah Chanel, Levi’s, L’Oréal, Revlon. Tampil di berbagai majalah mode.




Meski sukses di dunia glamour itu. Tapi setiap hari, ia membawa luka fisik dan luka batin dari apa yang dilakukan padanya saat berusia lima tahun.

Ia menderita nyeri kronis. Kesulitan dalam hubungan intim. Menanggung dampak seumur hidup dari FGM.

Selama bertahun-tahun,
ia diam.

Hingga di puncak karier modeling-nya, seorang jurnalis bernama Laura Ziv dari majalah Marie Claire mewawancarainya.

Kepada jurnalis itulah ia akhirnya Waris  menceritakan apa yang terjadi padanya. Apa yang terjadi pada jutaan gadis lain. Apa yang masih terjadi setiap hari. Sunat perempuan.

Wawancara itu diterbitkan dengan judul:
“Tragedi Sunat Perempuan”.

Responsnya mendunia. Barbara Walters mewawancarainya di NBC. Media di seluruh dunia mengangkat kisah itu.

Pada tahun 2003, lima belas negara anggota Uni Afrika meratifikasi Protokol Maputo, yang mendorong penghapusan FGM.

Pada 2019, pengadilan di London
menjatuhkan hukuman sebelas tahun penjara kepada seorang ibu yang menyunat anak perempuannya yang berusia tiga tahun — vonis pertama dalam sejarah Inggris.

Negara-negara di seluruh dunia telah mengesahkan undang-undang yang mengkriminalisasi FGM.

Kampanye edukasi menjangkau jutaan orang. Dan anak-anak perempuan yang seharusnya menghadapi pisau berhasil diselamatkan.

Waris Dirie kini berusia akhir lima puluhan. Ia terus berjuang.

“Aku ingin mengakhiri FGM
sepenuhnya dalam hidupku,” katanya. 

Saat ia mulai berbicara pada tahun 1997, lebih dari 130 juta gadis dan perempuan telah mengalami FGM.

Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan 8.000 gadis menghadapinya setiap hari.

Banyak orang bahkan tidak tahu praktik itu ada.

Namun kini ada perubahan. Sebuah studi British Medical Journal menemukan bahwa di Afrika Timur, angka FGM pada anak perempuan di bawah empat belas tahun turun dari 71 persen pada 1995 menjadi 8 persen pada 2017.

Di Afrika Barat: dari 73 persen menjadi 25 persen. Di Afrika Utara: dari 57 persen menjadi 14 persen.


Sejarah Sunat Perempuan 


Sunat perempuan dilakukan pertama kali di Mesir sebagai bagian dari upacara adat yang diperuntukkan khusus bagi perempuan yang telah beranjak dewasa. Tradisi sunat perempuan di Mesir merupakan akulturasi budaya antara penduduk Mesir dan orang Romawi yang saat itu tinggal di Mesir. 

Data historis mengungkapkan bahwa khitan (untuk laki-laki) diperkenalkan dalam Taurat yang dibawa Nabi Musa AS. untuk diimani dan ditaati orang Yahudi dari bangsa Israel. Akan tetapi, jauh sebelumnya tradisi sunat telah dilakukan Nabi Ibrahim AS dan diyakini sebagai petunjuk yang datang dari Tuhan.

Sunat perempuan di Afrika dikenal istilah khitan firauni (khitan ala Fir’aun) yang masih berlangsung sampai sekarang. Karena kini banyak pelakunya berasal dari golongan Muslimin, pihak-pihak tertentu memahami bahwa itulah ajaran Islam dalam hal khitan perempuan, padahal yang melakukan khitan firauni bukan hanya Muslimah. Khitan tersebut sangat sadis dan bertentangan dengan ajaran Islam. 

Seperti apakah khitan firauni tersebut? Ada beberapa tipe tindakan: (1) dipangkas clitoris-nya, (2) ada juga yang dipotong sebagian bibir dalam vaginanya, (3) ada juga yang dijahit sebagian lubang tempat keluar haidnya.

Sampai kini, sunat perempuan dalam realitas sosiologis masih banyak dilakukan di negara-negara Islam atau wilayah yang berpenduduk mayoritas Muslim. Akan tetapi, menarik juga diungkapkan bahwa praktik sunat perempuan justru tidak umum dilakukan di wilayah asal turunnya Islam, yaitu Arab Saudi. 

Di Indonesia, sunat perempuan dilakukan sebagai tradisi atau upacara adat, yang kadang memaksakan untuk dilakukan pesta secara besar-besaran yang mengarah kepada isyraf atau berlebihan, meskipun terkadang biaya untuk memenuhi pelaksanaan upacara tradisi tersebut sampai berhutang demi menjaga martabat. Dalam konsep Jawa kuno, upacara sunat perempuan dimaksudkan untuk menunjukkan peralihan dari masa kanak-kanak ke masa remaja yang ditandai dengan diperkenankannya menggunakan pakaian adat yakni berbusana dengan jarit atau kain batik panjang dengan model sabuk wolo, yaitu model pakaian berkain kebaya pada remaja. Bahkan karena kentalnya nuansa adat Jawa kuno itu, apabila ada anak perempuan belum disunat diberi ejekan yang mengarah pada diskriminatif.

Definisi Sunat 

Istilah sunat berasal dari bahasa Arab, yaitu khitan. Kata khitan secara etimologis berasal dari akar kata Arab khatanayakhtanu-khatnan, artinya ‘memotong’. Berbagai kitab fikih klasik menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sunat adalah memotong kuluf (menghilangkan sebagian kulit) yang menutupi hasyafah atau ujung kepala penis. Khitan laki-laki sering ditengarai sebagai penanda orang Islam. Bahkan orang Jawa menyebut khitan semakna dengan istilah ngislamaken (mengislamkan). Adapun sunat perempuan dalam bahasa Arab disebut khifadh berasal dari kata khafdh, artinya ‘merendahkan kulit yang menutup klitoris pada vagina.’

Pro dan Kontra Sunat Perempuan

Ada beberapa ulama, di antaranya Ibnu Qudamah, yang mengatakan bahwa khitan adalah wajib bagi laki-laki namun tidak wajib bagi perempuan. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW.:
Dari Ummu ‘Atiyah tukang khitan perempuan dari bani Anshar di Madinah, bersabda Nabi SAW. “Sayatlah sedikit dan jangan berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami” (Diriwayatkan Abu Dawud dan Baihaqi).

Berbeda halnya dengan khitan untuk laki-laki yang bertujuan untuk kesucian dan kebersihan, khitan untuk perempuan meskipun hadisnya tidak mencapai derajat sahih dapat membawa kemuliaan. Suatu kajian menilai Hadis itu sebagai Hadis dhaif, karena salah satu sanadnya Muhammad ibnu Said yang mati disalib karena zindiq dan dia telah membuat 4.000 Hadis palsu (Rofiq, 2014:112). Senada dengan itu, hadis yang sumbernya dari Anas:

Dari Anas bin Malik sesungguhnya Nabi SAW. berkata kepada Ummu ‘Atiyah tukang khitan perempuan dari Madinah: “Sayatlah sedikit dan jangan berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami” (diriwayatkan Thabrani).

Derajat hadis ini juga dhaif, kelemahannya bukan pada dhabit al-rawi (keilmuan perawi), tapi pada kredibilitas perawi yaitu Zaidah Ibu Abi Raqqad sebagai perawi yang mungkar.

Masih memberitakan Ummu ‘Atiyah yakni hadis yang sumbernya dari Dhaha’ Qais:

Dari Dhaha’ Qais berkata: “Adalah seorang perempuan di Madinah tukang sunat perempuan bernama Ummu ‘Atiyah, nabi berkata kepadanya: ‘Wahai Ummu ‘Atiyah, Sayatlah sedikit dan jangan berlebihan, karena hal itu akan mencerahkan wajah dan menyenangkan suami’” (Diriwayatkan Baihaqi dan Thabrani).

Derajat hadis sama dengan hadis yang telah disebutkan, yakni tidak mencapai derajat sahih karena salah satu sanad perawinya A’la ibn Hilal ar-Raqiy adalah seorang yang mungkar dan suka membolak balikkan sanad, bahkan juga ada perawi yang jalurnya tidak diketahui namanya (terputus).

Ada sebuah Hadis yang sangat populer, bersumber dari Utsamah, bahwa Nabi Muhammad SAW. bersabda:
Khitan itu sunah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan (diriwayatkan Imam Ahmad, Baihaqi, Thabrani)

Dari analisa hukum dalam Hadis tersebut disebutkan sunah, akan tetapi Imam Hanafi (dalam Hasiyah Ibnu Abidin), Imam Maliki (dalam asy-Syarhu ash-Shagir), dan Imam Syafii (dalam al-Majmu), memiliki pendapat atau pandangan bahwa hukum khitan bagi laki-laki adalah wajib bukan hanya sunah, karena perintah Allah untuk mengikuti mengikuti jejak Nabi Ibrahim (an-Nahl:123).

Artinya : Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Dalam hal khitan anak perempuan, hadis yang menyebut hukumnya mandub (sunah), kedudukannya dinilai Mauquf. Menurut Rofiq, hal ini karena hadis tersebut  hanya disandarkan pada sahabat dan mata rantai perawi bernama Hajja ibnu Arthah yang mudallis (menyembunyikan kecacatan hadis) enggan menggunakan “simbol” akhbarana (telah diceritakan padaku).

Ada sebagian ulama juga yang berpendapat karena mengikuti fitrah sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.:

Fithrah itu ada lima: “Khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memotong kumis” (HR. Bukhari Muslim).

Bahwa, perempuan yang dikhitan mengikuti hal fitrah yang diberikan Allah SWT. Namun demikian sesuai dengan definisi bahwa khitan istilah untuk anak-laki-laki adalah dipotong sedang untuk perempuan adalah khifadh, sehingga secara logika kata khitan dalam Hadis tersebut bukan untuk perempuan.

Kesimpulan

Hadis yang menyarankan khitan perempuan—baik yang sumbernya langsung Ummu ‘Atiyah, maupun yang disampaikan Utsamah dan Dhaha’ Qais— tidak ada satupun yang mencapai derajat sahih, dan bahkan kedudukannya malah dhaif dengan berbagai macam alasan.

Maka, terang bahwa khitan perempuan atau sunat perempuan tidaklah dianjurkan. Sunat perempuan akan menjadi mudharat terlebih apabila pelaksanaanya hanya sekadar untuk memenuhi tradisi atau adat yang arahnya pada pesta secara berlebihan. Bahkan, sebenarnya menurut penulis, sunat perempuan dapat
mengarah pada pelanggaran etika, khususnya apabila sunat itu dilakukan berdasarkan tuduhan bahwa perempuan jika tidak disunat tidak terkekang libidonya. Atau, dengan kata lain, sunat perempuan dilakukan dengan alasan untuk mengekang hawa nafsu. Sedangkan khitan laki-laki dilakukan karena untuk kesucian dan kesehatan, bukan dengan alasan pengekangan nafsu. •

Sunat Perempuan Menurut MUI

Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa No. 9A Tahun 2008 menetapkan bahwa sunat perempuan adalah makrumah (ibadah yang dimuliakan/dianjurkan) dan bagian dari syiar Islam. MUI menegaskan khitan perempuan tidak boleh dilarang, namun pelaksanaannya harus dilakukan secara halus, tidak merusak klitoris, dan tidak menimbulkan bahaya (dlarar), cukup dengan menghilangkan selaput yang menutupi klitoris. 

Berikut adalah poin-poin penting pandangan MUI mengenai sunat perempuan:

1. Hukum Dasar: Menurut Fatwa MUI, sunat perempuan adalah tindakan yang dianjurkan (sunnah) dan termasuk makrumah (kemuliaan).

2. Syiar Islam: MUI memandang khitan perempuan sebagai bagian dari fitrah dan syiar agama, bukan bentuk kekerasan terhadap perempuan.

3. Tata Cara: Khitan perempuan tidak boleh dilakukan secara berlebihan seperti memotong atau melukai klitoris (insisi dan eksisi) yang berisiko bahaya. Praktik yang diperbolehkan hanyalah menggores sedikit kulit tipis yang menutupi klitoris, tidak sampai habis.

4. Larangan yang Ditolak: MUI menolak larangan total terhadap praktik sunat perempuan (seperti dalam PP 28 Tahun 2024) karena dianggap bertentangan dengan syariat Islam.

5. Rekomendasi Medis: MUI meminta pemerintah memberikan pelatihan kepada tenaga medis agar melakukan sunat perempuan sesuai ketentuan syariat, bukan melarangnya. 

Dengan demikian, MUI menekankan pada cara melakukan sunat perempuan yang aman dan benar sesuai syariat, bukan pada pelarangan total praktik tersebut, selama tidak membahayakan.  

Sunat Perempuan Menurut Muhammadiyah

Majelis Tarjih mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa sunat perempuan tidak boleh dilakukan. Keputusan ini didasarkan pada penilaian teliti terhadap manfaat dan madharat (kerugian) yang mungkin timbul dari praktik ini. Muhammadiyah berkomitmen untuk menjaga integritas ajaran Islam dan melindungi perempuan dari praktik yang dianggap tidak didukung oleh nash (teks agama).

Menurut 4 Mazhab

hukum khitan menurut 4 mazhab:

1. Mazhab Syafi'i: Berpendapat wajib bagi laki-laki dan perempuan.

2. Mazhab Hambali: Wajib bagi laki-laki dan makrumah (kemuliaan/sunnah) bagi perempuan.

3. Mazhab Hanafi: Sunnah (sunnah muakkadah) bagi laki-laki dan makrumah bagi perempuan.

4. Mazhab Maliki: Sunnah (sunnah muakkadah) bagi laki-laki dan makrumah bagi perempuan.  (*)


Sumber:

-https://aisyiyah.or.id/sunat-perempuan-dalam-pandangan-islam/ (Disadur dari : Buku Menafsir Ulang Kesehatan Reproduksi dalam Perspektif Islam Berkemajuan
)
-Artikel Ajoko Raharjo FB
- Dll.

Senin, 16 Februari 2026

Beragama itu Mudah Jangan Dibuat Rumit



KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha') selalu menyampaikan pesan-pesan kebaikan dalam berdakwah, tanpa harus menghujat atau menuduh pihak lain yang tak sepaham dengannya.
Inilah pesan-pesan Gus Baha, Pengasuh Pesantren Al-Quran di Narukan, Rembang, Jawa Tengah:

"Semua ulama itu ijma' bahwa tha'at itu fi'lul ma'murat, atau ta'rif yang terkenal:

امتثال أوامر الله واجتناب نواهيه

menuruti perintah, menjauhi pencegahan.

Ini dengarkan sungguh-sungguh jika kau ingin jadi wali.

Artinya thaat itu sangat-sangat mudah. bahkan aktsaruth thaat fi tarki: sebagian besar thaat itu di bab tarku/meninggalkan maksiat.

Sekarang sampeyan saya kasih persoalan:
Kau shalat Subuh dapat ganjaran nggak? Ganjaran.
Shalat zhuhur? Ganjaran. Karena wajib.

Ketiduran Saat Subuh
Padahal antara Subuh dan Subuh yang lain, kau tidur, atau ngobrol dengan teman, atau ngobrol dengan bojo, di antara 24 jam sehari itu ada saat-saat kau bercanda dengan istri, menggoda cucu, atau guyon, itu artinya saat itu juga kau tidak berzina, tidak mencuri. Padahal meninggalkan zina itu wajib. Berarti saat kau bercengkeraama dengan istri atau di rumah melamun, hakekatnya kau juga menjalankan ketaatan karena pada saat itu kau meninggalkan maksiat.

Kau jangan seperti orang awam yang menghukumi thaat pada saat shalat sunat, dhuha 8 rakaat, qabliyah, ba'diyah, puasa. Jika yang seperti itu kau sebut thaat, lalu ketika ada orang Islam awam mondar-mandir di rumahnya tidak kau sebut sebagai ketaatan, maka itu berarti kau kurang ma'rifat, karena orang di rumah yang tampaknya garuk-garuk kepala menganggur, asal mukmin, ia berarti meninggalkan maksiat, itu namanya juga thaat. Ingat-ingat ya.

Ini penting saya sampaikan supaya thaatnya orang mukmin itu banyak. Nggih? Supaya thaatnya orang mukmin itu banyak. Jadi ingat-ingat ya, jadi thaat itu menjalankan perintah, meninggalkan pencegaahan. Karena itu thaat itu banyak sekali, dan gampang sekali.

Karena itu jika kau sedang dalam keadaan sumpeg, lalu mau shalat (sunat) enggan, membaca Quran enggan, sudah pokoknya wudlu lalu bilang: Ya Allah, alhamdulillah saya tidak melakukan maksiat.

Ini penting saya jelaskan karena sekarang ini banyak menyepelekan amal orang mukmin yang awam, hanya karena kelihatannya tidak pernah qabliyah ba'diyah, dawud, dalail, tidak pernah pakai sorban dan wiridan, lalu dianggap tidak pernah thaat. Itulah yang membuat kita saling curiga sesama orang Islam.

Itulah mengapa Syekh Zakariyya al-Anshari dalam kitab Lubul Ushul ngendikan: banyak ulama yang berpendapat bahwa status hukum mubah itu tidak ada. Sampeyan lihat di kitab Lubul Ushul di bab al ahkam khamsatun, yaitu wajib, tidak wajib, haram, halal, sunat, lalu makruh. Sampeyan sekarang saya beri persoalan: Mubah itu bagaimana kok bisa ada, sedangkan mubah itu bisa ya bisa tidak, dilakukan tidak mengapa, ditinggal tidak masalah. Rata-rata ulama mengambil contoh tidur dan makan.

Meninggalkan Zina
Lalu ada ulama yang mengkritik definisi itu: ketika tidur itu kau meninggalkan zina atau tidak? Jawab saja: Meninggalkan zina. Saat kau tidur itu meninggalkan membunuh orang atau tidak? Meninggalkan pembunuhan. Saat kau tidur itu menggunjing orang atau tidak? Tidak. Berarti meninggalkan semua keharaman. Meninggalkan keharaman itu wajib atau mubah? Wajib. Berarti kesimpulannya tidur itu wajib, tidak bisa kau sebut mubah. Itulah mengapa banyak orang jadi wali karena tidur. Itulah mengapa tidur itu pun istimewa menurut Al-Quran:

وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ
Nah, perkara kau tidak memasukkan tidur (sebagai tarkulma'shiyat) itu salahmu sendiri. Salahmu karena keliru niat. Oleh karena itu, jika kau mengantuk, kau wudlu dan "bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah, siap meninggalkan semua maksiat.", lalu langsung tidur nyenyak, itu kau wali. Lho ini beneran, ini saya ijazahi.

Inilah yang namanya ulama sungguhan, paham bahwa itulah yang dimaksud Syekh Zakariyya al-Anshari.

Tapi Syekh Zakaria juga tidak bodoh, beliau lalu melanjutkan: "Masalahnya ketika kau tidur itu tidak sedang meninggalkan maksiat saja, tapi juga sedang meninggalkan kewajiban."

Subuhnya kelewat, jatah menafkahi istri lewat, mencari ilmu juga lewat.

Akhirnya statusmu itu jadi orang yang para malaikat adzab semangat, malaikat azab juga semangat ... karena yang dlilihat malaikat adzab adalah kau sedang meninggalkan kewajiban, sedangkan malaikat rahmat juga menghitungmu sedang meninggalkan kemunkaran. Tinggal kau lebih akrab dengan yang mana: malaikat aazab atau rahmat.

Tapi kalau kau orang alim: cari ilmu sudah, meninggalkan maksiat sudah, tidurnya juga tidak mengganggu kewajiban, maka semua tidurnya berstatus wajib, maknanya wajib di situ karena saat tidur meninggalkan maksiat yang hukumnya wajib. Oleh sebab itu Syekh Zakariyya cerita, dengaan sudut pandang ini, hukum mubah tidak ada.

Misalnya saya ngobrol dengan Rukhin malam-malam, Rukhin menikmati obrolan dan kepulan asap rokok, lalu ngobrol sambil tertawa-tawa, saya akan menganggapnya: "Masya allah, anak ini kok thaat, ngobrol dengan teman kok dia senang. Bagaimana bila nikmat kita itu harus dengan ngobrol di nightclub, dengan wanita-wanita telanjang. Kan jadi maksiat." Tapi barokahnya kita thaat, ngobrol dengan orang keriting pun kita bahagia: alhamdulillah, tidak maksiat.

Karena itu di kitab ushul fiqh membuat definisi begini, dengarkan baik-baik: walmubah min haitsu dzatuhu.

المباح من حیث ذاته

Jadi semua ta'rif kitab lalu disempurnakan. Sebelumnya ta'rifnya hanya begini: mubah itu sesuatu yang boleh dilakukan boleh ditinggalkan. Tapi setelah ada kritik dari Imam Ka'bi, ta'rif mubah diubah: wal mubah min haitsu dzatuhu, mubah dipandang dari definisi mubah itu sendiri adalah sesuatu yang boleh dilakukan boleh ditinggalkan. Mengapa ditambahi min haitsu dzatuhu? Karena mubah dipandang dari efeknya adalah bisa wajib, karena pada saat melakukan mubah, berarti pada saat itu juga berarti meninggalkan keharaman. Paham ya maksud saya? Paham nggih?

Sekarang kau makan dalam durasi 30 menit: makan nasi dan pisang goreng, berarti dalam durasi 30 menit itu juga kita meninggalkan maksiat, karena sedang tidak zina tidak mencuri. Paham yang saya maksud? Itulah mengapa ketika melakukan sesuatu yang mubah kita diminta meniatkannya sebagai ibadah, karena saat itu Anda meninggalkan maksiat.

Nah, problem Anda sebagai mukmin awam, sebagai orang yang seperti sekarang ini, saat menjalani sesuatu yang mubah itu kurang ajarnya juga meninggalkan hal2 wajib. Itu yang bikin masalah. Misalnya ibumu sakit, dalam keadaan harus segera dibawa ke rumah sakit. Berarti tidur Anda berstatus meninggalkan kewajiban merawat ibu. Paham ya. Itu masalah kita. Sebab itulah ta'rif mubah itu disebut min haitsu dzatuh, karena jatuhnya mubah bisa ke haram jika saat itu meninggalkan wajib, bisa ibadah jika saat itu meninggalkan haram. Paham ya yang saya maksudkan ya?

Jika demikian, awamnya orang Indonesia itu adalah baik, karena rata-rata jika sedang tidak punya uang atau tidak punya pekerjaan ya di rumah garuk-garuk, menghitung genteng, hingga tahu jumlah tikus yang lewat di sana. Jadi bukan (menyepelekan): "Daripada melamun begitu, lebih baik shalat!" Lha tidak kepingin shalat kok, karena dia awam, wong bukan kyai. Ya sudah, anggap saja itu thaat karena tidak melakukan kemaksiatan. Paham ya yang saya maksudkan?

Supaya kau punya husnudzan pada awwamul muslimin, supaya punya husnudzan pada awwamul muslimin, karena bagaimanapun juga agama ini dibangun atas nama husnudzan. Karena itu Kanjeng Nabi ditanyai shahabat:

"Agama itu apa, Ya Rasulallah?"

قال: الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

قالوا : لِمَنْ يا رسول الله ؟

قَالَ : لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ

"Agama itu adalah nasihat. Nasihat itu punya niat baik, (pertama) pada Allah, pada Quran, rasul-Nya, lalu kau punya niat baik pada semua tokoh Islam, dan awam-awamnya orang muslim."

Kau punya niat dan memperlakukan dengan baik orang awam itu tidak sekadar kau sedekah, lalu senyum ramah jika bertemu mereka, tapi juga termasuk menghukumi bahwa mereka sering melakukan thaat, yaitu lewat jalur tarkul ma'shiyat, meninggalkan maksiat. Sudah, percaya saya saja jika ingin selamat dunia akhirat.

Karena itu ada shahabat, Anas bin Malik, saya jika lihat hadits itu menangis sungguh. Anas bin Malik itu anak kecil, cah ndalemnya Kanjeng Nabi.

Ketika Kanjeng Nabi sudah lanjut usia, menjelang wafat, Anas sudah dewasa. Saat bertemu Anas, begini nasihat Kanjeng Nabi:

يَا بُنَىَّ إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِيَ لَيْسَ فِي قَلْبِكَ غِشٌّ لأَحَدٍ فَافْعَلْ

وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي

Nas, Anas. Kau jika ingin jadi orang baik, pagi dan petang jadi orang baik. Pagi maupun sore, kau jalan-jalan saja, tetap hiduplah, yang penting hatimu tidak ada kebencian tidak ada niat buruk pada orang Islam.

وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي

Kau seperti itu sudah melakukan sunnahku.

Enak Ngopi Saja
Karena itu saya minta, yang suka ngopi pagi-pagi ya sudah ngopi saja: Alhamdulillah bisa ngopi. Yang penting tidak kecangkeman menggunjing tetangga. Yang suka jalan2 sambil garuk-garuk ya lakukan saja, asal jangan bermusuhan dengan (sesama orang Islam). Sudah yang penting pokoknya seperti itu. Itulah sebabnya saya tiap kali dilapori tentang keburukan teman maupun kejelekan murid, tidak pernah saya dengarkan, karena ciri utama orang shaleh itu adalah tidak mendengarkan keburukan orang shaleh yang lainnya.

Tapi sekarang zaman sudah rusak. Orang menyebut keburukan orang lain itu malah bangga. Kelihatan sekali nggak bisa mengaji, menyebut keburukan orang lain kok bangga. Goblok kok sampai seperti itu. 🤦‍♂️

"Gus, sekarang kyai sudah rusak semua. Orang Islam sudah rusak semua."

Memangnya kenapa?

"Diajak begini tidak mau. Diajak seperti ini menolak. Sudah rusak semua."

Ya saya jawab: Alhamdulillah, cepat kiamat.

"Njenengan nggak sensitif? Dunia sudah rusak kok tidak mengambil sikap?"

Lho, saya diam itu artinya mengambil sikap, karena diridlai oleh Allah, yang kecangkeman seperti dirimu itu yang ambil sikap masuk neraka. Dunia sudah rusak kau tambahi rusak.

Karena ngendikane (wasiat) Kanjeng Nabi di Shahih Muslim itu:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ

Sampeyan lihat di Shahih Muslim.

"Jika ada orang kok berkomentar: orang sedunia itu rusak, nggak ada yang benar, maka dialah yang paling rusak."

Karena satu: dia ujub, dan kedua: tindakan dia menghukumi tidak pasti benar.

Ini juga tasawuf. Karena itu:

يا أنس، إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِيَ لَيْسَ فِي قَلْبِكَ غِشٌّ لأَحَدٍ فَافْعَلْ

Karena itu saya mohon, njenengan itu hatinya selamat. Sudahlah, sampeyan kalau ingin bergaya, bergayalah. Artinya bergaya itu: bangga punya HP bagus, bangga dengan rambutmu yang keriting, bangga hidupmu melarat tapi bisa gendut,, terserah apa saja maumu.

Yang penting tidak merugikan orang lain.

Yang kurus juga bangga, bukan mursyid pun, hmm bisa berlagak menjalankan laku prihatin gaya mursyidlah, hmm alhamdulillah bentukku sudah bentuk orang akhirat. Hmm.

Yang gemuk juga: Alhamdulillah. Gusti saya gemuk sudah bisa bergaya sebagai orang syukur. Alhamdulillah.

Lakukan seperti itu saja sudah, daripada kamu komentar sana komentar sini, apalagi lewat media sosial. Jahl itu. Jahl murakkab.

Karena ciri utama orang baik itu menutupi aib orang muslim:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ

Tapi sekarang ini orang malah mengumbar aib orang muslim

Nangis saya melihat kelakuan orang-orang yang lewat WA lewat macam-macam.

Lha saya sudah tidak berkutik, wong itu sudah kersane Allah. Tapi sampeyan yang mengaji ke saya, saya anggap mencintai saya, saya beritahu: sampeyan tidak harus mematuhinya, jika sampeyan minat neraka, kalau peminat surga harus patuh. Bagaimanapun itu dhawuh Nabi:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ

Jika kau tukang mengadu-adu domba:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ.

Tidak bakal masuk surga orang yang suka mengadu domba.

Latihlah. Jadi tha'at zaman akhir itu dilatih. Itu tadi, ngendikane Nabi SAW ciri utama nasihat itu:

وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ

Ya dilatih. Perkara kamu kadang kecangkeman, kadang keliru ya boleh, memang dasarnya manusia. Tapi jangan sampai itu menjadi mental. Namanya manusia jika terpeleset bagaimana lagi, tapi itu jangan menjadi mental: Seumur hidupnya meneliti keburukan orang lain. Naudzubillahi min-dzalik."

Demikian tausiyah bersama KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha'). Semoga bermanfaat.

Sajadah nusantara

Libur Ramadhan 80an di Tengah Hutan



WAKTU bapak pensiun pada tahun 1980, Polri memberikan  jatah tanah seluas 2 hektar di Kabupaten Agam, tepatnya di Desa Bawan, sebuah desa terpelosok dalam kawasan hutan perawan. Bapak dan teman-teman sesama purnawirawan membuka lahan yang bernama Translok Polri tersebut. Bapak hanya berdua Amak saja. Meneroka lahan. Menebangi pohon dan merambah belukar. Sebuah perjuangan yang luar biasa, di masa pensiunnya. Bapak dibantu Amak mengusahakan lahan tersebut jadi lahan pertanian dan perkebunan.  Bapak hanya sebulan sekali pulang ke kampung, menjemput uang pensiun di kantor Pos Padangpanjang. Sekalian melihat anak-anak yang dititip di rumah nenek.

Tak kurang dari 250  pohon kelapa berhasil ditanami. Menunggu kelapa tumbuh dan berbuah, Bapak dan Amak menanami lahan dengan kacang tanah. Sesekali padi ladang. Seingatku nama padinya "elo banja" yang butirnya agak besar dan panjang. 

Masing-masing lokasi telah disediakan rumah papan, kira-kira seukuran 4x6 meter.  Di situlah Bapak dan Amak tinggal, di tengah ladang. Mungkin ada sekitar 15 orang pensiunan polisi yang mengikuti program Translok Polri tersebut. 

Ke sanalah, kami anak-anaknya menghabiskan liburan puasa sebulan penuh. Waktu itu aku masih kelas 2 SD. Kikira tahun 1981/82.

Untuk menuju ke sana kami harus naik bus Harmonis atau Harmoni dari Padang Luar, melewati Lawang dan Matur hingga meliuk di sepanjang kelok 44, terus ke Maninjau dan berakhir di terminal Lubuk Basung. Sampai? Belum. Masih jauh.

Dati Lubuk Basung kami nyambung angkutan rute Batu Kambing sejauh kurleb 35 km. Waktu itu belum dibangun jalan lintas Manggopoh yang melewati Bawan. Jadi kami harus memutar ke Batu Kambing dulu. Cukup jauh dan lama dengan kondisi jalan dan mobil yang sama menyedihkan. 

Sampai? Belum. Desa Bawan, lokasi Translok masih jauh nun di sana. Kami turun di Batu Kambing. Istirahat dulu, makan. Nah dari sana kami harus jalan kaki berkilo-kilo meter ke Simpang Bawan melewati jalan tanah dan buruk. Kalau musim kemarau harus berpanas-panas campur debu, dan kalau musim hujan harus bertarung melewati lumpur dan tanah licin. Bapak menuntun sepeda yang biasanya sudah dititipkan di sebuah kedai kopi di simpang Batu Kambing. Itu adalah sepeda dinas Bapak waktu masih aktif sebagai polisi di Polres Tanah Datar. Sepeda itu jadi alat transportasi le lokasi.

Sampai di Simpang Bawan, kira-kira  2 kilometer dari Pasar Lambah, barulah kami berbelok ke lokasi translok, sejauh 5-6 km, masih  melewati jalanan tanah, masuk hutan dan sesekali bertemu rumah² penduduk.

Kadang-kadang aku dan adikku digendong Amak kalau sudah mengeluh capek. Menempuh perjalanan di tengah hutan dan jarang bertemu perkampungan penduduk rasanya seperti berjalan di gurun pasir, tak tahu kapan sampai. 

Meski begitu, bagi kami, anak-anak Bapak, liburan dengan melakukan perjalanan berat seperti itu justru menyenangkan. Tiap libur puasa kami selalu minta ke sana. 

Setelah melewati rute ekstrem, akhirnya kami sampai di lokasi.  Sebuah rumah papan berwarna putih di tengah-tengah ladang dan kebun kelapa. 
Karena kami berangkat bulan puasa, apa boleh buat, puasa hari itu terpaksa batal. Kecuali Apak dan Amak.

Malam, dengan penerangan lampu Stromking (strongkeng) kami berleha-leha di tengah rumah berlantai papan, rumah panggung kikira setengah meter dari tanah. Obat nyamuk merek Butterfly berwarna hijau pekat dibakar, maklum nyamuk di tengah hutan lumayan ramai. 

Saban habis magrib, sambil menyeduh kopi panas kami duduk-duduk melepas lelah usai makan malam. Sebuah radio tape merek Nasional selalu menemani. Kanal yang kami stay tune biasanya siaran BBC London edisi Bahasa Indonesia dan Radio ABC Australia bahasa Indonesia. Mendengarkan berita-berita dunia dan politik Indonesia. Kalau nggak BBC, kami dengar suaran RRI Padang. Penyiar yang kuingat adalah bang Heranof. Suaranya khas dan berat. Enak didengar.

Meski di tengah hutan, jauh dari keramaian dan selama libur itu aku dan kakak adik ikut bertungkus lumus bekerja di ladang, tapi kurasa momen itu adalah momen terindah. 

Kalau pas musim menanam kacang tanah, kami selalu ronda tiap malam. Bapak membuat pondok panggung yang tingginya hampir tiga meter dari tanah. Orang Bawan menamainya Gulang-Gulang. Di situ aku selalu ikut jaga ladang dari hama babi dengan sebuah senter yang sinarnya menerjang jauh ke sudut-sudut ladang. Sesekali kami mendengar lenguhan harimau. Tapi inyiak itu tak menganggu. Ia hanya lewat. 

Untung RRI Jakarta tengah malam itu selalu memutar lagu-lagu lawas pengantar tidur yang bagi kami adalah lagu teman begadang. 

Waktu paska si juniorku disunat, harusnya aku beristirahat di rumah nenek di Bukit Surungan di Gang Aster. Hanya seminggu, aku minta pulang, lantaran kakak dan adikku diboyong Bapak libur ke Bawan, aku merengek minta ikut. Meski baru sehari bisa pakai celana, hari itu aku nekat ikut. 

Jadilah, dengan kondisi si junior yang harusnya dalam masa pemulihan, kupaksa ikut bertualang ke rimba raya. Tak mungkin doi kutinggal.

Dan terbukti keputusanku bukanlah keputusan tepat. Di atas bus yang sumpek dan panas tanpa AC, selama dalam perjalanan aku benar-benar tersiksa. Mana panas garang lagi. Kebayang kan, luka bekas kerjaan mantri sunat terkurung dalam situasi panas dan berkeringat. Meruyaklah dia, pasti.

Untung pada tahun 1984 itu jalan by pass dari Lubuk Basung ke pasar Lambah dan  Kinali  sudah dibikin. Lumayan mengurangi penderitaan, tak terbayang jika harus melewati Batu Kambing yang berliku-liku.

Sampai di Simpang Bawan, dua kilometer dari Pasar Lambah, kami turun. Beristirahat sejenak, makan dulu. Bapak mengambil sepeda yang dititip di kedai langganannya. Oleh Bapak aku ditaruh di boncengan, berhubung statusku masih pesakitan. 

Kendati duduk di boncengan, tidak otomatis si juniorku aman-aman dan nyaman saja. Sama sekali tidak.  Tetap saja barang paska operasi tersiksa di bocengan melewati jalan tanah setapak. Barang yang harusnya rawat jalan malah dibawa jalan-jalan. Jarak dari Simpang Bawan ke rumah di lokasi kikira sepuluhan kilometer. Entahlah. Pokoknya jauh.

Bapak yang terbiasa menghadapi tersangka bromocorah alias residivis di ruang penyidik itu, tenang-tenang saja menuntun sepeda berisi barang bawaan dan anak bujangnya. Bapak pasti tahu aku tersiksa karena tiap sebentar aku meringis menahan nyeri. Maklumlah  paska luka sunat  bergesekan dengan celana dan goncangan sepeda sungguh menyiksa sekali. Bapak hanya berucap, "Tak usah mengeluh, anak laki-laki tak boleh manja! Tando ka gadang mah (maksudnya badanku, bukan burungku).

Bapak cuek aja tiap kali aku meringis. Beliau seperti pura-pura tak tahu. Mungkin itu cara Bapak mengajarkan aku agar jadi laki-laki jangan cengeng. 

Okelah kalau begitu.

Singkat cerita, jelang magrib kami sampai di rumah di tengah kebun kelapa dan ladang kacang tanah. Di sekeiling rumah ditumbuhi aneka pohon yang rimbun. Lumayan membuat suasana rumah adem. Karena secara topografi, kawasan Bawan adalah wilayah tanah datar yang  jauh dari pegunungan, lebih dekat ke pinggir pulau Sumatera. Karena itu suhu di sana selalu panas. 

Malam itu aku pulas tertidur di lantai papan. Aku lupa, apakah saat itu aku sempat mimpi atau enggak. Lagian, aku memang orang yang selalu lupa dengan mimpi. Sering bangun tidur aku ingat aku mimpi dalam tidur. Tapi selalu tak ingat kronologi  mimpi. Sebagian orang justru ingat detail mimpinya, sampai percakapan yang terjadi di mimpinya bisa diceritakan. Aku nggak begitu.

Esoknya, akibat melakukan perjalanan yang melelahkan (bus yang sempit, jalan tanah yang jelek, dan cuaca panas) kondisi si kecil agak mengalami problem: meruyak bekas jahitannya. Untung Bapak punya cara mengatasinya. Bukan dengan penisilin atau tetrasilin, tapi bubuk rautan batok kelapa alias sayak. Bubuknya ditaburi di sekitar bekas jahitan. Kata Bapak supaya cepat kering dan sembuh. Ternyata memang cespleng.

Tapi kondisi itu kujadikan alasan untuk tidak ikut puasa. Lumayan bisa minum bebas di siang hari. Tapi hanya tiga hari. Setelah itu aku pulih total. Dan bisa ikut bantu Bapak dan Amak menanam kacang. 

Cara menanam kacang goreng adalah dengan dituga. Tuga itu sebuah kayu mirip alu yang ujungnya runcing ditancapkan ke tanah, untuk membuat lubang di mana biji kacang ditanam. Aku ikut menuga. 

Tanah yang dua hektar itu dibagi-bagi menjadi beberapa bagian. Tanaman kacang ditanam dengan kelompok-kelompok tahapan. Di bagian lain di tanam padi, bengkuang, dan sayuran. 

O ya, tentang  hama babi, selain diawasi dengan ronda saban malam, Bapak juga punya senjata api laras panjang yang dipinjamkan Polri. Kalau tak salah mereknya Pingpong, entahlah aku lupa mereknya. Pelurunya panjang kikira kaliber 9 mm.  Dengan senapan panjang itu Bapak mengusir Babi. Tapi jarang dipakai. 

Belakangan Kapolri  kemudian  mengeluarkan kebijakan penarikan semua senjata yang dipakai purnawirawan, namanya Operasi Sapu Jagat. Senapan di tangan Bapak  akhirnya diserahkan ke institusi Polri. 
Namun belasan peluru masih tersisa, karena bapak lupa di mana menyimpannya. Lumayan buat koleksi. Sekarang ga tau di mana peluru-peluru itu. Waktu SMA aku pernah menjadikannya kalung. Padahal peluru aktif. 

Siang hari bekerja membantu Bapak dan Amak di ladang, malam hari begadang meronda babi. Sambil menikmati kopi dan mendengar radio transistor.

Karena anak Amak semuanya laki-laki, apa boleh buat, tiap sore aku dan adikku mendapat tugas mengurus dapur. Tak begitu  lama dan sulit Amak mengajarkan tutorial menggiling cabe, menggoreng, menumis, sampai menggulai ayam. Semuanya khatam secara kilat. 

Selama libur di sana  aku sering menggulai ayam untuk menu buka puasa. Kami punya kandang ayam, dan banyak ayam yang siap dipotong. Dari memotong ayam, menguliti sampai menggulai dan plating  alhamdulillah bisa kukerjakan. Padahal aku masih kelas 5 SD. 

Karena bulan puasa, takjil untuk buka puasa selalu tersedia. Ada pisang, ubi dan lain-lain yang bisa dibuat kolak. Itu juga aku bisa membuatnya.

Amak sibuk sampai jelang bedug berbuka mengerjakan berbagai-bagai kerja di kebun. Beliau tipikal wanita yang tak bisa diam. Menggarik saja. Tugas dapur itu urusan aku dan adikku. Biasanya anak bontot dan junior selalu disuruh-suruh. Yang senior punya tugas lain. Selesai tugas di dapur aku boleh main sepeda. Sepeda ontel.

Mengingat kronologi masa itu, aku selalu merindukannya.  

Gambar ilustrasi yg saya buat dengan prompt di gemini, sepertinya cukup mendekati realnya. Memang seperti itulah masa itu. Bapak tua menuntun sepeda bersama anak²nya di tengan hutan.

Oce E Satria,
Blogger.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1447 H.
Maaf lahir dan batin. 🤝