![]() |
| Ilustrasi/iStockphoto |
BAGAIMANA generasi Baby Boomer atau generasi 60an, 70,an 80an, 90an menghadapi anak-anak mereka yang adalah generasi Z? Sebagian tak ada masalah. Tapi sebagian lagi merasa pusing.
Pusing karena ternyata cara generasi lama dengan generasi mutakhir punya banyak perbedaan dalam merespon realitas. Keniscayaan waktu membuat sistem nilai dan cara pandang akan sangat berbeda. Yang sering dikeluhkan orangtua zaman sekarang terhadap anak zaman sekarang adalah; anak zaman sekarang apa-apa selalu didebat. Kalau kita menyampaikan satu larangan, mereka mendebat dan minta alasan. Kita bilang pokoknya nggak boleh, mereka dengan over confident menggugat: "Semua hal itu harus ada alasannya, Ayah!?“
Kita beri alasan, mereka mendebat lagi: "Emangnya kenapa?"
Kita berikan jawaban untuk 'kenapa'nya, mereka akan berargumen: "Semua hal itu kan tergantung kitanya, Yah. Jangan insecure begitu".
Apa itu insecure? Mereka doyan sekali pakai istilah kebarat-baratan terhadap ayahnya yang ketimur-timuran ini.
Kalau kita ingatkan kepada mereka adab anak kepada orangtua dan bagaimana respon kita sebagai seorang muslim(ah), sebagai urang Minang, maka mereka juga punya segudang argumen:
"Kami kan tetap santun tetap hormat kok. Itu kan tergantung POV-nya Ayah. Ayah jadi merasa terdistract karena Ayah pakai POV versi Ayah...".
Duhh apa itu POV, apa itu terdistract....?? (Kenapa aku sekolot ini ya, gumam saya)
Kalau kita ceritakan bagaimana relasi antara anak dan orang yang lebih tua waktu kita jadi anak-anak dulu, mereka mencibir. Kita ceritakan bahwa kami dulu tidak berani membantah orangtua, bahkan membantah orang dewasa siapa pun dia. Kami dulu selalu punya rasa risih pada orangtua, dan memilih menghindar.
Apa reaksi mereka?
"Ayah nih, apa-apa selalu bilang 'kami dulu....kami dulu....' Kan sekarang memang beda, Yah."
Ahh, pokoknya kita selalu kalah berdebat dengan anak-anak zaman sekarang. Apakah ini disebabkan karena mereka terlalu sering dipapar oleh budaya generasi baru Korea yang tiap hari mereka tonton? Atau terbius oleh aneka podcast anak-anak muda di Youtube yang memang selalu bicara terbuka?
Beberapa waktu lalu, saya sempat dengar anak sata celetuk "anjir" saat ngobrol dengan adiknya. Kontan saya marahi. Dan mengultimatum: "Jangan pernah ucapkan itu lagi di mana pun. Pokoknya nggak boleh!!" lalu saya garisbawahi agar tak berpanjang-panjang: "Gak usah bantah!!"
Dia diam ketakutan. Tapi abis itu tak berapa lama, terdengar dia dan adiknya cekikikan berdua.
Ondeee mandee...!
Tips
Anak yang kritis dan memiliki kecerdasan tinggi cenderung banyak bertanya dan sulit menerima sesuatu tanpa alasan logis. Mereka memiliki dorongan alami untuk memahami segala sesuatu dengan lebih mendalam.
Potensi ini perlu diarahkan dengan pendekatan yang tepat. Orang tua bisa mengajak anak berdiskusi dengan cara yang sehat, sekaligus mengajarkan bahwa ada aturan yang tetap harus dipatuhi meskipun mereka memiliki pemikiran yang kritis.
“Kebiasaan penempatan diri saat menasihati anak juga bisa menjadi penyebab anak suka membantah orangtua,” demikian penjelasan dari dr. Novi Handayani, Msi.Med, Sp.A, seperti yang disampaikan dalam video Youtube #KataDokterHalodoc.
Saat hendak menasihati atau memberi tahu sesuatu kepada anak, tempat diri sejajar dengan anak, sehingga anak tidak merasa terhakimi. Misalnya saat duduk, posisi duduk bersama dengan mata anak dan mata orangtua saling memandang. Lantas, apalagi yang harus dilakukan orangtua ketika anak suka membantah?
Cobalah untuk memahami perspektif mereka daripada mengklaim kesalahan mereka.
Disadari atau tidak, orangtua cenderung mengkategorikan anak sebagai anak yang “baik” dan “tidak baik”. Perilaku “baik” adalah ketika mereka bermain dengan tenang, melakukan apa yang orangtua katakan dan demikian sebaliknya. Pemberian imej seperti ini hanya akan membuat anak merasa dikotak-kotakkan dan merasa disayangi berdasarkan apa yang mereka lakukan.
Jika orangtua menghilangkan kebiasaan ini, akan membuat anak merasa dihargai sebagaimana adanya mereka. Ini juga akan berpengaruh kepada apa yang akan dilakukannya di rumah dan di luar rumah. Anak akan lebih percaya diri dan meyakini kalau dia punya kemampuan untuk mengendalikan lingkungan dan punya peranan pada sosial. (*)

Tulis komentar