Minggu, 19 Oktober 2025

Saya Marah Marah Hanya Pas Marah-Marah



JUDUL itu mengutip humor Cak Lontong saat membahas topik 'marah' dalam tayangan Teka Teki Sulit Waktu Indonesia Bercanda (TTS WIB) di sebuah stasiun TV. Tapi bagaimana sebenarnya risiko dan cara mengendalikan amarah? 

Punya rasa marah sebetulnya baik-baik saja, dan sah. Yang tidak baik adalah keseringan marah dan terbiasa marah-marah. Apalagi jika kehilangan kendali, lalu membabi buta. Kasihan babi buta. 

Kata orang di bagian kesehatan, sering marah-marah atau emosi yang sangat kuat dengan disadari atau tidak, lambat laun dengan sendirinya dapat menghasilkan perubahan-perubahan anatomis dan fisiologis tertentu pada sejumlah sistem organ tubuh. Ujung-ujungnya dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Sasarannya beragam. Misalnya merusak sistem kekebalan tubuh. 

Para ilmuwan di Harvad University menemukan pada orang sehat, bahwa hanya meminta mereka untuk mengingat pengalaman marah dari masa lalunya, dapat menyebabkan penurunan selama enam jam dalam kadar antibodi imunoglobulin A, yaitu garis pertahanan pertama sel melawan infeksi. 

Selain itu keseringan marah bisa mengundang depresi dan stres. Penelitian mengatakan, peningkatan hormon stres pada saat marah dapat menciptakan peradangan di saluran udara. 

Lalu, bisa merusak paru-paru. Meskipun Anda bukanlah seorang perokok, tetapi tetap bisa merusak paru-paru bila Anda sering marah-marah. Hasil penelitian ilmuwan di Harvard University terhadap 670 pria selama delapan tahun, pria yang keseringan marah dapat memiliki kapasitas paru-paru yang memburuk sehingga meningkatkan risiko masalah pernapasan. 

Bahkan sering marah memicu risiko sakit jantung, kecemasan dan stroke. Solusinya, menurut pakar kesehatan, saat Anda ingin marah, coba bernapas dalam-dalam. Bisa juga dengan bersikap tenang dan kendalikan diri.


Tips Jauh dari Marah Menurut Islam

 

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan ketika seseorang emosi atau marah, seperti disampaikan Prof. Dr. Darmawati, M.Hum., Wakil Dekan I FEBI UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda berikut ini:

1. Diam
Diam merupakan salah satu cara yang diajarkan Nabi Muhammad SAW untuk mengatasi amarah. Walaupun terkadang dalam hati terasa tidak nyaman, namun itu lebih baik dari pada harus melampiaskan emosi dan marah. Karena yang namanya marah itu jika keluar bisa jadi keluar kata-kata yang tidak Allah ridhai. Ada yang marah keluar kata-kata kufur, ada yang marah keluar kalimat mencaci maki, ada yang marah keluar kalimat laknat, ada yang marah keluar kata-kata cerai, nama Binatang, hingga hal-hal sekitarnya pun bisa hancur.

Kalau seseorang memaksa dirinya untuk diam ketika akan marah, hal-hal yang rusak tadi tidak akan terjadi. Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad : وَ إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ “Jika salah seorang di antara kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad, 1: 239. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan lighairihi).

2. Segera Duduk
Jika seseorang marah sambil berdiri, maka sebaiknya segera duduk, dan jika kemarahannya sudah hilang, maka hendaklah berbaring. Sebagaimana dalam hadits ; Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ

“Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, no. 4782. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

3. Mengambil Air Wudhu
Marah adalah api dari setan yang berakibat mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf. Karena, umat Islam juga dianjurkan segera berwudhu ketika marah. Air wudhu akan memadamkan api tersebut dan akan menghilangkan amarah serta gejolak darah. Dari Athiyyah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu.” (HR. Abu Daud, nomor 4784. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

4. Membaca isti’adzah (ta’awudz)
Meminta perlindungan pada Allah SWT dari godaan setan. Kenapa sampai meminta tolong pada Allah SWT agar dilindungi dari setan? Karena marah bisa dari setan. Maka kita mengamalkan firman Allah SWT : وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّهٗ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ​​

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf: 200)

Sulaiman bin Shurod radhiyallahu ‘anhu berkata : كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ“

“Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari, nomor 3282)

5. Ingat wasiat Nabi Muhammad SAW
“Jangan Marah” Sebelum memuntahkan amarah kepada orang lain atau benda sekalipun, baiknya memperhatikan hadits berikut yang berisi pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang yang meminta nasehat dari beliau. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari, no. 6116)

Itulah beberapa cara atau adab yang telah diajarkan dalam Islam ketika amarah. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.(*)

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 272)
"Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya." (HR. Ahmad)

Tulis komentar