Minggu, 19 Oktober 2025

Ketika Imam Ahmad bin Hanbal Diusir Marbot Masjid



IMAM Ahmad bin Hanbal RA pernah mendapat perlakuan yang tidak islami dari seorang marbot masjid. Mengapa seorang yang namanya sangat masyhur di tengah masyarakat itu bisa diperlakukan demikian, bahkan oleh orang yang sehari-hari berdiam di masjid?

Ceritanya, Ahmad bin Hanbal ra yang dikenal sebagai Imam Hanbali dan murid Imam Syafi'i itu, suatu kali berada di Irak. Saat itu usianya sudah terbilang tua.  

"Saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju ke salah satu kota di Irak," ia berkisah.

Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah di Irak. Kadarullah, ia sampai di kota itu  saat tiba waktu Isya'. Imam Hanbal pun ikut shalat berjamaah isya di masjid.

Karena sudah malam, usai shalat ia bermaksud hendak istirahat dan menumpang tidur di masjid tersebut.
 
Namun saat baru saja ia hendak merebahkan badannya, tiba-tiba seorang marbot masjid datang menghampirinya dan bertanya,   "Kenapa syaikh, mau ngapain di sini?" (kata "syaikh" bisa dipakai untuk tiga panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Sang marbot memanggil "syaikh"  sebagai panggilan untuk orang tua, karena imam Ahmad kelihatan sebagai orang tua).

Marbot tidak tahu kalau orang yang dihadapinya adalah Imam Ahmad, ulama tersohor. Di lain pihak Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya. 

Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadis, ribuan hadis dihafalnya, sangat shaleh dan zuhud (hidup sederhana). Tapi lantaran zaman itu belum ada teknologi fotografi sehingga orang tidak tahu wajahnya,  meski namanya sudah terkenal. 

Imam Ahmad pun menjawab marbot tersebut, "Saya ingin istirahat, saya musafir." 

Tapi marbot tidak membolehkannya.  "Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid!"

Marbot tersebut, saking tegasnya, ia mendorong-dorong Imam Ahmad menyuruhnya  keluar dari masjid, Setelah Imam keluar masjid, marbot mengunci  pintu masjid.

Karena butuh istirahat, Imam Ahmad tidur di teras masjid. Ketika sudah berbaring di teras masjid marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. 

"Mau ngapain lagi syaikh?" kata marbot. 

"Mau tidur, saya musafir" jawab imam Ahmad. 

Sang marbot tetap ngotot, "Di dalam masjid tidak boleh, di teras masjid juga tidak boleh." 

Imam Ahmad diusir. Ia didorong-dorong sampai jalanan. Hingga beliau berjumpa sebuah rumah kecil di dekat masjid. Rupanya rumah seorang penjual roti, di mana rumah kecil itu juga tempat membuat sekaligus menjual roti. Sang lenjual roti yang sedang membuat adonan, melihat kejadian imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Dia pun lantas memanggil dari jauh, "Mari syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil," ia menawarkan rumahnya untuk tempat istirahat Imam Ahmad yang tidak dikenalnya.

Mendapat tawaran itu Imam Ahmad gembira dan menyambut tawaran baik tersebut. Sembari beristirahat ia menyaksikan penjual roti yang sedang membuat roti. 

Namun ada hal yang membuat Imam Ahmad terheran-heran yakni si penjual roti ini punya perilaku tersendiri, kalau imam Ahmad mengajak dia mengobrol, dijawabnya, namun kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, "Astaghfirullah...." terus menerus. Saat meletakkan garam dia membaca "astaghfirullah...", saat memecahkan telur dia istigfar "astaghfirullah...", begitupun saat mencampur gandum ia tetap melafazkan istighfar "astaghfirullah...". Selalu mengucap istighfar.

Imam Ahmad memperhatikan terus. Lalu imam Ahmad bertanya, "Sudah berapa lama Anda lakukan ini (beristighfar terus menerus)?" 

"Sudah lama sekali, Syaikh. Saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan," jawabnya.

Imam Ahmad menukas, "Apa hasil dari perbuatanmu ini?"

Sambil terus membuat adonan roti, si penjual roti  menjawab, "(lantaran wasilah istighfar) Tidak ada hajat yang saya minta , kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah...., langsung diterima." 

(Memang Nabi SAW pernah bersabda, "Siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya")

Lalu orang itu melanjutkan "Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah kabulkan."

Imam Ahmad penasaran kemudian bertanya, "Apa itu?" 

"Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad," jawab si penjual roti.

Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir, "Allahuakbar, Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan karena istighfarmu...."

Penjual roti kontan terperanjat mendengar ucapan Imam Ahmad. Sadarlah ia saat itu bahwa yang ada di hadapannya adalah orang yang selalu diimpikannya untuk bertemu. 

Tentang Imam Ahmad 
Ahmad bin Hanbal (bahasa Arab: أحمد بن حنبل, lahir 20 Rabiul awal 164 H (27 November 780) - wafat 12 Rabiul Awal 241 H (4 Agustus 855) adalah satu dari ulama mahzab yang 4. (Lainnya, Imam Hanafi, Imam Maliki, ImamSyafi'i) Ia seorang ahli hadits dan teologi Islam. Ia lahir di Mary, Turkmenistan, utara Afganistan. Serta ia dikenal dengan nama Imam Hambali. 
Spesialisasinya adalah ilmu-ilmu Fikih, Ulum Hadist, Aqidah, Sejarah Hadits, Syariat, Tafsir Al Quran, Arabic Language Studies, Islam dan Hukum. 
Kezuhudannya 
Dia memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang dia keluar ke tempat kerja membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga dia pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil". 
Ahmad bin Hanbal menulis banyak buku. Salah satunya kitab al-Musnad al-Kabir yang termasuk sebesar-besarnya kitab "Musnad" dan sebaik baik karangan dia dan sebaik baik penelitian Hadits. Ia tidak memasukkan dalam kitabnya selain yang dibutuhkan sebagai hujjah. Kitab Musnad ini berisi 26.363 hadits berdasarkan penomoran al-Alamiyah, atau berisi 27.100 hadits berdasarkan penomoran Ihya at-Turats. 
Imam Ahmad berkata, "Kitab ini saya kumpulkan dan saya pilihkan dari lebih 750.000 hadits." 
Di antara karya Imam Ahmad adalah ensiklopedia hadits atau musnad, disusun oleh anaknya dari ceramah (kajian-kajian) - kumpulan lebih dari 40 ribu hadits juga Kitab ash-Salat dan Kitab as-Sunnah. (*)

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 272)
"Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya." (HR. Ahmad)

Tulis komentar