Senin, 16 Februari 2026

Libur Ramadhan 80an di Tengah Hutan



WAKTU bapak pensiun pada tahun 1980, Polri memberikan  jatah tanah seluas 2 hektar di Kabupaten Agam, tepatnya di Desa Bawan, sebuah desa terpelosok dalam kawasan hutan perawan. Bapak dan teman-teman sesama purnawirawan membuka lahan yang bernama Translok Polri tersebut. Bapak hanya berdua Amak saja. Meneroka lahan. Menebangi pohon dan merambah belukar. Sebuah perjuangan yang luar biasa, di masa pensiunnya. Bapak dibantu Amak mengusahakan lahan tersebut jadi lahan pertanian dan perkebunan.  Bapak hanya sebulan sekali pulang ke kampung, menjemput uang pensiun di kantor Pos Padangpanjang. Sekalian melihat anak-anak yang dititip di rumah nenek.

Tak kurang dari 250  pohon kelapa berhasil ditanami. Menunggu kelapa tumbuh dan berbuah, Bapak dan Amak menanami lahan dengan kacang tanah. Sesekali padi ladang. Seingatku nama padinya "elo banja" yang butirnya agak besar dan panjang. 

Masing-masing lokasi telah disediakan rumah papan, kira-kira seukuran 4x6 meter.  Di situlah Bapak dan Amak tinggal, di tengah ladang. Mungkin ada sekitar 15 orang pensiunan polisi yang mengikuti program Translok Polri tersebut. 

Ke sanalah, kami anak-anaknya menghabiskan liburan puasa sebulan penuh. Waktu itu aku masih kelas 2 SD. Kikira tahun 1981/82.

Untuk menuju ke sana kami harus naik bus Harmonis atau Harmoni dari Padang Luar, melewati Lawang dan Matur hingga meliuk di sepanjang kelok 44, terus ke Maninjau dan berakhir di terminal Lubuk Basung. Sampai? Belum. Masih jauh.

Dati Lubuk Basung kami nyambung angkutan rute Batu Kambing sejauh kurleb 35 km. Waktu itu belum dibangun jalan lintas Manggopoh yang melewati Bawan. Jadi kami harus memutar ke Batu Kambing dulu. Cukup jauh dan lama dengan kondisi jalan dan mobil yang sama menyedihkan. 

Sampai? Belum. Desa Bawan, lokasi Translok masih jauh nun di sana. Kami turun di Batu Kambing. Istirahat dulu, makan. Nah dari sana kami harus jalan kaki berkilo-kilo meter ke Simpang Bawan melewati jalan tanah dan buruk. Kalau musim kemarau harus berpanas-panas campur debu, dan kalau musim hujan harus bertarung melewati lumpur dan tanah licin. Bapak menuntun sepeda yang biasanya sudah dititipkan di sebuah kedai kopi di simpang Batu Kambing. Itu adalah sepeda dinas Bapak waktu masih aktif sebagai polisi di Polres Tanah Datar. Sepeda itu jadi alat transportasi le lokasi.

Sampai di Simpang Bawan, kira-kira  2 kilometer dari Pasar Lambah, barulah kami berbelok ke lokasi translok, sejauh 5-6 km, masih  melewati jalanan tanah, masuk hutan dan sesekali bertemu rumah² penduduk.

Kadang-kadang aku dan adikku digendong Amak kalau sudah mengeluh capek. Menempuh perjalanan di tengah hutan dan jarang bertemu perkampungan penduduk rasanya seperti berjalan di gurun pasir, tak tahu kapan sampai. 

Meski begitu, bagi kami, anak-anak Bapak, liburan dengan melakukan perjalanan berat seperti itu justru menyenangkan. Tiap libur puasa kami selalu minta ke sana. 

Setelah melewati rute ekstrem, akhirnya kami sampai di lokasi.  Sebuah rumah papan berwarna putih di tengah-tengah ladang dan kebun kelapa. 
Karena kami berangkat bulan puasa, apa boleh buat, puasa hari itu terpaksa batal. Kecuali Apak dan Amak.

Malam, dengan penerangan lampu Stromking (strongkeng) kami berleha-leha di tengah rumah berlantai papan, rumah panggung kikira setengah meter dari tanah. Obat nyamuk merek Butterfly berwarna hijau pekat dibakar, maklum nyamuk di tengah hutan lumayan ramai. 

Saban habis magrib, sambil menyeduh kopi panas kami duduk-duduk melepas lelah usai makan malam. Sebuah radio tape merek Nasional selalu menemani. Kanal yang kami stay tune biasanya siaran BBC London edisi Bahasa Indonesia dan Radio ABC Australia bahasa Indonesia. Mendengarkan berita-berita dunia dan politik Indonesia. Kalau nggak BBC, kami dengar suaran RRI Padang. Penyiar yang kuingat adalah bang Heranof. Suaranya khas dan berat. Enak didengar.

Meski di tengah hutan, jauh dari keramaian dan selama libur itu aku dan kakak adik ikut bertungkus lumus bekerja di ladang, tapi kurasa momen itu adalah momen terindah. 

Kalau pas musim menanam kacang tanah, kami selalu ronda tiap malam. Bapak membuat pondok panggung yang tingginya hampir tiga meter dari tanah. Orang Bawan menamainya Gulang-Gulang. Di situ aku selalu ikut jaga ladang dari hama babi dengan sebuah senter yang sinarnya menerjang jauh ke sudut-sudut ladang. Sesekali kami mendengar lenguhan harimau. Tapi inyiak itu tak menganggu. Ia hanya lewat. 

Untung RRI Jakarta tengah malam itu selalu memutar lagu-lagu lawas pengantar tidur yang bagi kami adalah lagu teman begadang. 

Waktu paska si juniorku disunat, harusnya aku beristirahat di rumah nenek di Bukit Surungan di Gang Aster. Hanya seminggu, aku minta pulang, lantaran kakak dan adikku diboyong Bapak libur ke Bawan, aku merengek minta ikut. Meski baru sehari bisa pakai celana, hari itu aku nekat ikut. 

Jadilah, dengan kondisi si junior yang harusnya dalam masa pemulihan, kupaksa ikut bertualang ke rimba raya. Tak mungkin doi kutinggal.

Dan terbukti keputusanku bukanlah keputusan tepat. Di atas bus yang sumpek dan panas tanpa AC, selama dalam perjalanan aku benar-benar tersiksa. Mana panas garang lagi. Kebayang kan, luka bekas kerjaan mantri sunat terkurung dalam situasi panas dan berkeringat. Meruyaklah dia, pasti.

Untung pada tahun 1984 itu jalan by pass dari Lubuk Basung ke pasar Lambah dan  Kinali  sudah dibikin. Lumayan mengurangi penderitaan, tak terbayang jika harus melewati Batu Kambing yang berliku-liku.

Sampai di Simpang Bawan, dua kilometer dari Pasar Lambah, kami turun. Beristirahat sejenak, makan dulu. Bapak mengambil sepeda yang dititip di kedai langganannya. Oleh Bapak aku ditaruh di boncengan, berhubung statusku masih pesakitan. 

Kendati duduk di boncengan, tidak otomatis si juniorku aman-aman dan nyaman saja. Sama sekali tidak.  Tetap saja barang paska operasi tersiksa di bocengan melewati jalan tanah setapak. Barang yang harusnya rawat jalan malah dibawa jalan-jalan. Jarak dari Simpang Bawan ke rumah di lokasi kikira sepuluhan kilometer. Entahlah. Pokoknya jauh.

Bapak yang terbiasa menghadapi tersangka bromocorah alias residivis di ruang penyidik itu, tenang-tenang saja menuntun sepeda berisi barang bawaan dan anak bujangnya. Bapak pasti tahu aku tersiksa karena tiap sebentar aku meringis menahan nyeri. Maklumlah  paska luka sunat  bergesekan dengan celana dan goncangan sepeda sungguh menyiksa sekali. Bapak hanya berucap, "Tak usah mengeluh, anak laki-laki tak boleh manja! Tando ka gadang mah (maksudnya badanku, bukan burungku).

Bapak cuek aja tiap kali aku meringis. Beliau seperti pura-pura tak tahu. Mungkin itu cara Bapak mengajarkan aku agar jadi laki-laki jangan cengeng. 

Okelah kalau begitu.

Singkat cerita, jelang magrib kami sampai di rumah di tengah kebun kelapa dan ladang kacang tanah. Di sekeiling rumah ditumbuhi aneka pohon yang rimbun. Lumayan membuat suasana rumah adem. Karena secara topografi, kawasan Bawan adalah wilayah tanah datar yang  jauh dari pegunungan, lebih dekat ke pinggir pulau Sumatera. Karena itu suhu di sana selalu panas. 

Malam itu aku pulas tertidur di lantai papan. Aku lupa, apakah saat itu aku sempat mimpi atau enggak. Lagian, aku memang orang yang selalu lupa dengan mimpi. Sering bangun tidur aku ingat aku mimpi dalam tidur. Tapi selalu tak ingat kronologi  mimpi. Sebagian orang justru ingat detail mimpinya, sampai percakapan yang terjadi di mimpinya bisa diceritakan. Aku nggak begitu.

Esoknya, akibat melakukan perjalanan yang melelahkan (bus yang sempit, jalan tanah yang jelek, dan cuaca panas) kondisi si kecil agak mengalami problem: meruyak bekas jahitannya. Untung Bapak punya cara mengatasinya. Bukan dengan penisilin atau tetrasilin, tapi bubuk rautan batok kelapa alias sayak. Bubuknya ditaburi di sekitar bekas jahitan. Kata Bapak supaya cepat kering dan sembuh. Ternyata memang cespleng.

Tapi kondisi itu kujadikan alasan untuk tidak ikut puasa. Lumayan bisa minum bebas di siang hari. Tapi hanya tiga hari. Setelah itu aku pulih total. Dan bisa ikut bantu Bapak dan Amak menanam kacang. 

Cara menanam kacang goreng adalah dengan dituga. Tuga itu sebuah kayu mirip alu yang ujungnya runcing ditancapkan ke tanah, untuk membuat lubang di mana biji kacang ditanam. Aku ikut menuga. 

Tanah yang dua hektar itu dibagi-bagi menjadi beberapa bagian. Tanaman kacang ditanam dengan kelompok-kelompok tahapan. Di bagian lain di tanam padi, bengkuang, dan sayuran. 

O ya, tentang  hama babi, selain diawasi dengan ronda saban malam, Bapak juga punya senjata api laras panjang yang dipinjamkan Polri. Kalau tak salah mereknya Pingpong, entahlah aku lupa mereknya. Pelurunya panjang kikira kaliber 9 mm.  Dengan senapan panjang itu Bapak mengusir Babi. Tapi jarang dipakai. 

Belakangan Kapolri  kemudian  mengeluarkan kebijakan penarikan semua senjata yang dipakai purnawirawan, namanya Operasi Sapu Jagat. Senapan di tangan Bapak  akhirnya diserahkan ke institusi Polri. 
Namun belasan peluru masih tersisa, karena bapak lupa di mana menyimpannya. Lumayan buat koleksi. Sekarang ga tau di mana peluru-peluru itu. Waktu SMA aku pernah menjadikannya kalung. Padahal peluru aktif. 

Siang hari bekerja membantu Bapak dan Amak di ladang, malam hari begadang meronda babi. Sambil menikmati kopi dan mendengar radio transistor.

Karena anak Amak semuanya laki-laki, apa boleh buat, tiap sore aku dan adikku mendapat tugas mengurus dapur. Tak begitu  lama dan sulit Amak mengajarkan tutorial menggiling cabe, menggoreng, menumis, sampai menggulai ayam. Semuanya khatam secara kilat. 

Selama libur di sana  aku sering menggulai ayam untuk menu buka puasa. Kami punya kandang ayam, dan banyak ayam yang siap dipotong. Dari memotong ayam, menguliti sampai menggulai dan plating  alhamdulillah bisa kukerjakan. Padahal aku masih kelas 5 SD. 

Karena bulan puasa, takjil untuk buka puasa selalu tersedia. Ada pisang, ubi dan lain-lain yang bisa dibuat kolak. Itu juga aku bisa membuatnya.

Amak sibuk sampai jelang bedug berbuka mengerjakan berbagai-bagai kerja di kebun. Beliau tipikal wanita yang tak bisa diam. Menggarik saja. Tugas dapur itu urusan aku dan adikku. Biasanya anak bontot dan junior selalu disuruh-suruh. Yang senior punya tugas lain. Selesai tugas di dapur aku boleh main sepeda. Sepeda ontel.

Mengingat kronologi masa itu, aku selalu merindukannya.  

Gambar ilustrasi yg saya buat dengan prompt di gemini, sepertinya cukup mendekati realnya. Memang seperti itulah masa itu. Bapak tua menuntun sepeda bersama anak²nya di tengan hutan.

Oce E Satria,
Blogger.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1447 H.
Maaf lahir dan batin. 🤝

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 272)
"Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya." (HR. Ahmad)

Tulis komentar