TENTANG sanad belajar agama, Gus Baha’ bepesan, “Tirulah Mbah Moen dan orang-orang saleh. Se’alim-‘alimnya Mbah Moen, kalau mengajar masih memakai kitab.”
Gus Baha’ pun meski ‘alim tetap menggunakan kitab kuning dalam mengajarkan ilmu agama. “Paling tidak seperti saya ini. Kamu bisa ingat. Ini kitab dikarang Sayyid Muhammad. Sayyid Muhammad guru dari putra-putranya Mbah Moen. Sanadnya jelas.”
Gus Baha’ juga menjelaskan sanad keilmuan Sayyid Muhammad, “Beliau memaklumatkan bahwa kitab ini adalah kesimpulan dari al-Itqan. Pengarangnya adalah Abah saya. Sayyid Muhammad juga fair, ini bukan karangan saya, tapi Abah saya, Sayyid Abbas. Jadi dulu, ini memang karangannya Sayyid Abbas, ketika zumdat al-itqan. Terus, era Sayyid Muhammad dimodifikasi jadi al-Qawa’id al-Asasiyyah. Beliau cerita sanadnya. Di kitab ini beliau carita sanadnya bahwa sampai kepada Imam Suyuthi. Imam Suyuthi cerita sanadnya sampai kepada Rasulullah. Kan jelas ini pendapat siapa, ini versi siapa. Dan ini versi beliau.”
Terlebih belajar dan mengajarkan Al-Quran. Jangan sampai menjelaskan Al-Quran menggunakan pendapat sendiri. Kitab yang ditulis para ulama kredibel merupakan sanad keilmuan bagi kita.
“Tapi kalau tanpa kitab, seperti mengajarkan Al-Quran kok menurut saya. Kamu mau mengkaji Al-Quran atau mengkaji menurut saya? Jangan berani ngomong tafsir menurut saya.”
Di saat berdiskusi atau berdebat pun, harus ada referensi atau kitab rujukan. Jangan bergaya seperti layaknya mujtahid. “Orang debat agama kok gak ada referensi, tidak ada kitabnya, selalu bilang menurut saya. Memangnya Anda penting dalam… wali tidak, ulama tidak, kok debat agama bilang menurut saya. Memangnya Anda mujtahid? Harusnya tidak begitu. Menurut kitab yang saya baca dalam dalam madzhab Syafi’i kitab ini begini. Yang satu ya bantah dalam madzhab Maliki kitabnya ini. Itu baru keren.”
Lebih tegas Gus Baha’ berpesan, “Makanya dibiasakan pakai referensi, pakai sanad. Agama ini butuh sanad. Lihat di muqaddimah Shahih Muslim, agama ini ilmu, ilmu ini agama. Maka lihatlah ilmu itu, kamu ambil dari mana.
Gus Baha: Ciri Ahlussunnah Wal Jama’ah Itu Sanad Ilmunya Harus Jelas
Dalam pengajiannya, Gus Baha menerangkan tentang ciri Ahlussunnah Wal Jamaah di zaman akhir.
"Ciri Ahli Sunnah di zaman akhir itu, dalam Aqidah menganut Imam Abul Hasan Al-Asy’ari & Imam Abu Mansur Al-Maturidi
Dalam masalah Fiqih mengikuti salah 1 dari mazhab 4, yaitu: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii atau Imam Ahmad bin Hanbal.
Sedang dalam bertasawuf mengikuti salah satu dari 2 madzhab, Abul Qosim Al-Juanidi atau Imam Al-Ghozali."
"Mengapa menjadi definisi begitu? Karena, dulu firqoh di Arab banyak yang menentang. “Itu pengertian apa?” Nabi tak pernah menjelaskan begitu."
"Kalian jangan terjebak dengan ucapan mereka, bahwa nabi tak pernah mengeluarkan definisi tentang ciri Ahlussunnah Wal Jamaah seperti itu. Tentu nabi tak akan mengatakan seperti itu, karena di zaman nabi belum ada imam Ghozali, belum ada Abul Qosim Al Junaidi."
"Tapi kita percaya dengan definisi seperti itu. Mengapa? Karena kita percaya bahwa Aswaja itu, orang yg spt dikatakan Nabi:
“Maa ana alaihil yauma wa ashaabi.” Orang yang mengikuti perilaku saya dan mengikuti para sahabat saya."
"Itu teks yang disampaikan Nabi. Lalu kenapa kita harus menyebut nama imam-imam kita dan sanad kita? Karena kalau kita tak menyebut sanad, akan muncul pertanyaan."
“Kamu kok bisa tau sahabat melakukan itu kata siapa?” jawabnya “Kata guru saya.” Kita kan tak bisa langung mengatakan “kata Nabi.”
"Kata Nabi itu yang meriwayatkan siapa? Contoh Imam Bukhori. Imam Bukhori itu siapa? Beliau itu muridnya Imam Syafii. Karena Imam Bukhori itu periodenya setelah Imam Syafii. Saya hafal sanadnya Imam Bukhori sampai ke Rasulullah. Dan saya punya sanad sampai Imam Bukhori," kata Gus Baha.
Misalkan kalian ditanya, “kamu tahu Amerika?” Terus kamu jawab “Tahu.” “Kok bisa tahu Amerika? Dan kamu jawab “lihat di TV.” Televisi saja kamu jadikan sanad kok Imam Syafii tak jadi sanad.
Contoh lagi, misal kamu ditanya suatu hal, trus kamu jawab “Nabi itu berkata gini, jadi tak perlu ulama, harus ke Nabi aja langsung.
Lha kamu kok tahu kalau nabi bilang seperti itu kata siapa? Apa kamu mau jawab lewat mimpi? Akhirnya mau tidak mau kamu harus menyebutkan guru.
PENTINGNYA SANAD
Gus Baha:
"Andaikan tidak ada sanad maka orang akan berpikir agama sesuai maunya dan itu bahaya sekali."
Berkata Imam Syafii: "Tiada ilmu tanpa sanad". Maka fatwa tanpa sanad adalah bathil.
Imam Syafii: "penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan pencari kayu bakar yg mencari kayu bakar di tengah malam, ia membawa tali pengikatnya adalah ular berbisa dan ia tak tahu" (Faidhul Qadir Juz 4 hal 442).
Berkata AL Hafidh Imam Attsauri: "Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak memiliki senjata, maka dengan apa kau membela diri?"
Berkata juga Imam Ibnul Mubarak: "penuntut ilmu tanpa sanad bagaikan orang yg ingin naik ke atap rumah tanpa tangga."
Dan masih banyak lagi, dan merupakan hal yang baku di antara para Muhadditsin bahwa mereka tak mengakui suatu ajaran/tuntunan ibadah dari seseorang ustaz/guru/ulama kecuali orang itu mempunyai sanadnya.
Jadi kalau mau belajar agama, harus tahu gurunya siapa, guru dari gurunya siapa dst, hingga nyambung ke Rasulullah.
Namun hal semacam ini tidak perlu dirisaukan untuk kita, karena sebagai panganut madzhab ahlussunnah waljamaah kita telah mempunyai sanad dalam segala ibadah.
Ziarah, tawassul, istighatsah, tabarruk, maulid, tahlilan ada sanadnya, bersambung kepada Rasul SAW, atau pada sahabat, atau pada para Muhadditsin.
Jadi sanad orang NU itu jelas.
Dari Kyai Hasyim Asy'ari, dari Syaikhona Kholil Bangkalan, dari Kyai Sholeh Darat, dari syekh Ahmad bin Zaini Dahlan, sambung menyambung hingga ke imam Bukhari.
Imam Bukhari sanadnya juga sambung menyambung hingga sahabat Nabi.
Dan sahabat Nabi diajari langsung oleh Nabi Muhammad SAW.
Wallahu A'lam.

Tulis komentar