Kamis, 18 Desember 2025

Makiannya Sama, Efeknya Berbeda




“Ini kerjaan terjelek yang pernah saya liat dari kalian. Malu saya ngeliatnya.”

Kalimat itu meluncur dari mulut Mas Arya. Creative Director yang terkenal tenang tapi kalau sudah kecewa… suaranya bisa bikin ruangan menjadi panas dan menjema menjadi neraka jahanam. 

Raka yang menjabat sebagai Art Director dan Dimas Sang Copywriter cuma bisa duduk diam di depan layar presentasi yang bahkan mereka sendiri mendadak ikut benci. Keduanya adalah pasangan andal dan sering merebut medali di berbagai festival iklan.

Mas Arya rupanya belum puas melampiaskan kekecewaannya. Dia melanjutkan, nada suaranya rendah tapi lebih menyakitkan daripada teriakan, “Kalian seminggu ngapain aja? Brief segampang ini kok bisa gak bisa bikin yang bagus? Jijik saya ngeliatnya.”

Sunyi. Hening. Mas Arya menutup laptop, berdiri, dan keluar ruangan tanpa menoleh. Pintu tertutup dengan suara: Brak! seperti meterai kegagalan yang nempel di dahi mereka berdua.

Raka menarik napas panjang, lalu berdiri sambil menepuk pundak Dimas. “Ayo, bro. Ke ruang meeting. Kita mikir konsep baru. Bisa lah.”

Nada suaranya datar, tapi santai. Seolah tadi cuma ditegur kakak kelas di masa inisiasi, bukan dibantai CD. Raka memang tipe orang yang gak mudah tersinggung. Setiap kejadian pahit dengan mudah dikonversikan menjadi energi untuk memecut dirinya berkarya lebih baik lagi. 

Tapi hal yang sama tidak terjadi pada Dimas. Wajahnya merah. Rahangnya kaku. Nafas pendek. Dari mulutnya keluar kalimat yang bahkan bikin Raka menengok dua kali. “Ntar mobil Mas Arya gue kempesin. Biar dia gak bisa pulang. Bangsat!”

"Hahahaha...sabar, Bro. Anggap aja itu spice of life. Dibawa asyik aja."

Raka ketawa. Dimas enggak. Satu kejadian, satu ruangan, satu kritik yang sama tapi dua reaksi yang berlawanan. Ekstrem. Kenapa bisa gitu? Bagaimana mana mungkin satu pengalaman bisa memberi efek yang berlawanan? 

Analisisnya begini. Raka dan Dimas tidak hanya menghadapi Mas Arya. Mereka sedang menghadapi memori lama mereka sendiri.

Raka tumbuh besar di lingkungan yang kalau salah, ya dicoba lagi. Kritik bukan ancaman, cuma informasi. Masa kecilnya penuh kalimat semacam: “Nggak apa, ulangi. Kamu pasti bisa.”

Jadi ketika CD marah, otaknya tetap tenang. Amygdala-nya tidak panik. Tubuhnya tidak masuk mode bertahan. Buat dia, “kerjaan jelek” tinggal diperbaiki. Selesai.

Dimas beda cerita. Dia dibesarkan di rumah yang penuh bentakan dan ekspektasi. Kritik = ancaman. Nada kecewa = tanda bahaya. Ketika Mas Arya ngomel, amygdala-nya langsung nyala penuh.
Tubuhnya masuk ke mode fight-or-flight.

Dan gaya bertahan Dimas memang fight, walau kadang bentuknya cuma humor gelap. Makanya reaksi pertamanya bukan “Ayo perbaiki,” tapi “Gue kempesin ban mobilnya.”

Dua orang ini mengalami situasi yang sama, tapi tubuh mereka mengingatkan hal yang berbeda. Raka menghadapi hari itu. Dimas menghadapi masa lalunya. Yang satu melihat masalah untuk diselesaikan. Yang satu melihat ancaman untuk dilawan.
Yang satu masuk mode berpikir. Yang satu masuk mode bertahan hidup.

Dan begitulah hidup bekerja di perusahaan periklanan, atau kantor mana pun sebenarnya. Sering kali yang bikin kita meledak bukan kata-kata bos, tapi luka yang sudah lama kita bawa dalam pikiran.

Kritik yang sama bisa terasa seperti ajakan berkembang bagi satu orang, tapi seperti pukulan bagi orang lainnya. Karena kita tidak pernah masuk ruangan sendirian. Selalu ada versi kecil dari diri kita yang ikut duduk di kursi itu. Dan selama kita tidak mengenalnya,
dialah yang akan bereaksi lebih dulu setiap kali kita dikritik.

Yang perlu kita lakukan bukan membungkamnya, tapi menyadarinya. Cobalah menarik napas. Menunda reaksi. Memberi jarak beberapa detik antara kata-kata orang lain dan luka lama kita sendiri.

Karena begitu kita tahu, “Ini bukan bos gue yang menyerang. Ini masa lalu gue yang terbangun karena terpicu,” kita kembali memegang kendali.

Kritik tetap kritik. Masalah tetap masalah. Tapi kita tak lagi bertarung untuk bertahan hidup. Kita tidak lagi bereaksi sebagai luka. Kita perlu merespons sebagai manusia dewasa. (*)

Sumber FB Budiman Hakim

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 272)
"Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya." (HR. Ahmad)

Tulis komentar