KEGAIRAHAN mempraktikkan ajaran agama adalah anugrah yang indah. Itulah yang selalu ingin dicapai semua orang.
Tapi di antara mereka yang bergairah itu, adakalanya sangat berlebihan mendakwahkan paham yang mereka yakini terutama soal fikih yang notabene adalah tafsir ulama terhadap nash (Alquran dan Hadist) yang mereka ikuti.
Berlebihan yang saya maksud adalah, "kegatelan" menyerang saudara seiman tapi berbeda paham, aliran atau mahzab. Yang kentara adalah vonis bid'ah yang dilekatkan kepada pihak lain tapi disertai rasa kebencian sampai menjelek-jelekkan ulama lain yang berseberangan dengan ulama ikutan mereka.
Misalnya label ustad subhat yang ditempelkan kepada Ustadz Abdul Somad (UAS) dan Ustad Adi Hidayat (UAH). Terlebih disertai pula foto kedua ulama tersebut disilang merah yang sengaja mereka modifikasi sehingga kentara kesan menghinakan kedua ahli agama tersebut. Postingan dan foto itu sering saya lihat melintas di lininasa Facebook. Begitu ditilik akun si pemosting, tahulah kita bahwa dia orang yang baru belajar dan bertemu paham baru mereka (istilah umumnya; berhijrah). Saya yang masih awam dan baru hendak hijrah ini hanya bisa geleng² kepala.
Ibarat, pesilat yang baru belajar ilmu pedang, semua hal hendak ia tebas, dari batang keladi sampai tonggak tua gedung tinggi. Merasa dialah pemilik kebenaran, dan yang mereka sebut penganut bid'ah adalah penghuni neraka.
Teman-teman saya juga banyak yg berhijrah dan mengikuti paham tertentu, tapi adab mereka sangat menyenangkan, mereka tak pernah ikut²an jelek menjelekkan ulama yg mereka tak sependapati.
Padahal, bila diinapmenung benar, masalah bid'ah dan konsekswensinya hanya masalah perbedaan tafsir ulama terhadap teks-teks wahyu dan hadist. Tafsir para ulama bersandar pada ijtihad. Dan Allah sendiri memberikan apresiasi atau reward terhadap mereka yang berijtihad: kalau benar dapat dua pahala, kalau ijtihadnya keliru masih dapat satu pahala, seperti dikonfirmasi sendiri oleh Nabi SAW dalam hadistnya.
So, berhentilah merasa paling benar dalam perihal fiqih, apalagi menyangkut khilafiyah bila Anda hanyalah jemaah biasa yang baru mengarungi lautan ilmu, yang para ulama sudah lebih dulu berlayar, sebaiknya gulung gulung dulu lidah.
Alangkah lebih baik, jika memang ingin mensosialisasikan paham yang Anda yakini terutama di media soal (yang notabene jemaahnya sangat random), lebih bagus tambahkan disclaimer "Saya meyakini pendapat ini dan mempraktikkannya, meski demikian saya juga menghargai orang lain yang tidak sependapat dengan saya". Dan tak usah menghasung (hasut) orang lain membenci seorang ulama, atau merendahkan ulama tertentu.
Wallahu a'lam bishawab...🙏
Oce E Satria

Tulis komentar