Saat membuka Facebook, melintas tulisan ini dari sebuah akun bernama Na Padmo OFC. Tulisannya sangat menginspirasi sekaligus sangat layak disebarluaskan. Saya ingin membagikannya untuk siapa pun yang kebetulan nyasar ke blog ini. Mudah-mudahan bermanfaat. Ini tulisan lengkapnya;
PADA tahun 1974, seorang seniman bernama Marina Abramović berdiri selama enam jam penuh, tanpa bergerak sama sekali.
Ia menyediakan 72 benda di atas meja, antara lain:
~ sebatang bunga mawar,
~ sebatang bulu burung,
~ sebotol parfum
~ jarum-jarum
~ cambuk,
~ gunting,
~ pisau bedah,
~ bahkan sebuah pistol dengan satu peluru (artinya, Marina memang siap mati atau minimal terluka di pertunjukan ini).
Ia berkata kepada para penonton, “Kalian boleh menggunakan benda-benda ini terhadapku sesuka kalian.”
Lalu ia berdiri di sana.
Diam.
Tak bergerak.
TIDAK MELAWAN.
Awalnya, orang-orang masih bersikap lembut…
Ada seorang yang menyodorkan padanya, setangkai mawar itu. Tapi Marina hanya diam. Lantas, mawar dikembalikan ke meja. Siap dipakai oleh pengujung lain yang ingin mengekspresikan perasaannya dengan bunga yang sama.
Ada pengunjung lain yang mencium keningnya.
Ada yang memeluknya.
Namun seiring waktu berlalu, mungkin karena melihat Marina tidak bereaksi (TIDAK MELAWAN)… maka beberapa orang mulai bersikap barbarik.
Seorang mulai menelanjangi Marina dengan cara menggunting pakaiannya. Menelanjangi tanpa tanda kutip ya. Betul-betul jadi telanjang.
Marina tetap diam.
Beberapa orang menusukkan jarum ke badan Marina.
Marina tetap diam.
Ada seseorang yang mengambil pisau dan menggores leher Marina sampai darahnya menetes.
Mata Marina berkaca-kaca, mungkin karena menahan sakit, tetapi dia tetap diam.
Bahkan ada yang mengambil pistol dan menodongkannya ke arah kepalanya. Untung saja pelatuknya tidak ditekan. Aman.
Tapi dengan teguh, Marina tetap diam…
Dia menerima perlakuan apapun. Termasuk orang-orang yang menghapus air mata Marina dan mengeringkan lukanya yang berdarah.
Ketika enam jam itu berakhir, Marina Abramović mulai bergerak. Dia berjalan, mendatangi orang-orang yang tadi melukainya, dan menatap mereka satu-per-satu.
Anehnya, kerumunan orang ini langsung buyar!!! Tak seorang pun sanggup menatap matanya. Mereka bergegas pergi meninggalkan gedung pertunjukan!!!
Ini bukan sekadar sebuah pertunjukan seni biasa. Marina telah melakukan eksperimen sosial, yang memperlihatkan: akan seperti apakah manusia… jika mereka BOLEH MELAKUKAN APAPUN, TANPA DIBERIKAN KONSEKUENSI (HUKUMAN).
Ternyata mampu sebiadab itu.
Tapi juga sepengecut itu.
********
Mencermati belasan video tiktok dan youtube tentang pertunjukan Marina Abramović ini, aku jadi merenung lamaaaaaaaaa sekali.
Biadab, tapi juga sepengecut itu…
Kenyataan ini terus berkelebat di pikiranku.
Aku jadi teringat pengalamanku, melihat seorang gadis berjilbab dipukuli dan ditendangi oleh pacarnya di halaman parkir sebuah mall. Sama seperti pengunjung Marina, pemuda itu pun lari ngibrit… bahkan sampai lompat pagar segala, ketika aku menghentikan mobilku, dan turun dari mobil sambil berteriak “WOY!!!” Padahal, aku cuma ibu-ibu paruh baya lho. Apakah pemuda itu lari, hanya karena aku menunjukkan gelagat berani?
Aku jadi teringat pada pengalamanku sendiri melawan, saat dibully ketika masih kanak-kanak. Mereka juga minggat. Lari pulang, menangis sambil menyebut nama emaknya…
Aku juga teringat pada kelakuan netizen yang memaki sampai lisannya begitu kasar dan sangat tidak mencerminkan iman seorang yang punya agama dan punya Tuhan….
Mungkin karena tokoh yang dimaki dan disumpahi itu memilih diam dan tidak mengambil tindakan hukum…?
******
Aku tidak sedang membahas politik. Ini murni membahas psikologi sosial: dynamics of power and empathy. Bagaimana jenis manusia ‘TERTENTU’ bisa berubah total, meninggalkan kemanusiaan, adab, dan welas asih… ketika diberi kesempatan untuk berbuat APAPUN tanpa dikenai konsekuensi APAPUN.
Mereka kehilangan empati saat merasa berkuasa,
dan baru sadar dosa begitu kekuasaan mereka untuk bertindak semaunya itu hilang. Karena mereka dihadapkan pada perangkat hukum.
Oh…! Jangankan dihadapkan pada ancaman penjara. Di pertunjukan Marina, terbukti… hanya dengan dihampiri dan ditatap matanya pun, mereka ngacir!
Mungkin karena itu, agama diciptakan ya? Penuh dengan kisah-kisah tentang surga dan neraka, pahala dan dosa. Bukan karena Tuhan butuh menakut-nakuti,
tapi karena manusia ‘TERTENTU’ memang cuma bisa tertib dan beradab (dan bertindak selayaknya manusia; bukan ‘iblis’) kalau takut dihukum.
Tanpa rasa takut, mereka tak punya rem moral.
*******
Kadang aku bertanya sendiri:
apakah terlalu utopis kalau berharap manusia bisa menjadi luhur… Bisa eling, sadar, dan tetap beradab… meskipun tak diawasi siapa pun?
Entahlah.
Tapi aku tetap ingin percaya…
bahwa selalu ada manusia-manusia yang mampu menjaga dorongan jahat, atau godaan kekuasan gelap dari dalam dirinya, meski tak ada yang melihat.
Karena di situlah sejatinya peradaban manusia luhur berdiri:
bukan karena ada perangkat hukum,
bukan karena ada orang kuat yang memegang kekuasaan, tapi ada pada kesadaran pribadi.
KESADARAN PRIBADI, yang hadir karena bersihnya hati dan pikiran.
Apa yang muncul di hati dan benak kalian…???
Please tulis ya… aku ingin membaca ‘pikiran’ teman-teman.
Btw…
#Aku_pamit_dulu ya… libur medsos.
Semoga teman-teman jadi punya waktu juga untuk membaca postingan-postinganku yang lain (termasuk membaca kolom komennya, karena banyak yang sharing pengalaman hidup yang berharga di sana)
Na Padmo OFC
12.31, Jumat Wage
11 Kalima 2936 Jawa
24 Oktober 2025 Masehi

Tulis komentar